Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, tidak akan dapat hidup berdampingan secara damai dengan AS. Trump kembali menyatakan ketidakpuasannya terhadap keputusan Teheran memiliki Mojtaba sebagai pemimpin baru mereka.
"Saya tidak yakin dia bisa hidup dalam damai," ucap Trump dalam wawancara terbaru dengan Fox News, seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu (11/3/2026).
Otoritas Iran mengumumkan pada Minggu (8/3) waktu setempat bahwa Mojtaba, yang berusia 56 tahun, telah dipilih menjadi pemimpin tertinggi baru untuk negara itu, menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan AS-Israel pada akhir Februari lalu.
Mojtaba menjadi pemimpin tertinggi ketiga Iran sejak negara Syiah itu dilanda revolusi tahun 1979 silam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Trump yang bersikeras ikut menentukan pengganti Khamenei, sudah beberapa kali menyatakan rasa tidak senangnya terhadap Mojtaba. Dia sebelumnya mengatakan dirinya "tidak senang" dengan pilihan Iran tersebut, dan menyebut penunjukan Mojtaba sebagai "kesalahan besar".
Tidak hanya itu, Trump juga memperingatkan bahwa Mojtaba "tidak akan bertahan lama" tanpa persetujuan AS.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump juga membahas soal prospek dialog antara AS dan Iran, namun dia tidak memberikan kepastian.
"Saya mendengar mereka sangat ingin berdialog," ucapnya, sebelum menambahkan bahwa hal itu hanya "kemungkinan" dan bergantung pada persyaratan yang dapat diterima. Pernyataan ini kontras dengan komentar Trump sebelumnya yang mengatakan dirinya "setuju untuk berdialog" dengan para pejabat Iran.
Trump, masih dalam wawancara yang sama, juga menyampaikan pembenaran terbaru untuk serangan skala besar AS terhadap Iran, yang dimulai bersama Israel sejak 28 Februari lalu.
"Jika kita menunggu tiga hari, saya yakin kita akan diserang," ucapnya, sembari mengklaim bahwa serangan AS menghancurkan separuh persediaan rudal Iran.
Teheran telah membantah pernyataan Trump itu, dengan menegaskan mereka tidak menginginkan senjata nuklir atau rudal yang mampu menjangkau AS.
Trump lebih lanjut mengatakan bahwa utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, telah memberitahu dirinya bahwa Iran memiliki uranium yang diperkaya yang cukup untuk memproduksi 11 bom nuklir. Pengungkapan itu, sebut Trump, secara efektif membuat tindakan militer tidak dapat dihindari.
"Pada dasarnya mereka mengatakan bahwa saya harus menyerang mereka," ujar Presiden AS itu.
Simak juga Video: Kapan AS Berhenti Serang Iran? Ini Jawaban Gedung Putih











































