Pemerintah Inggris menyatakan siap mendukung pertahanan Arab Saudi di tengah perang di Timur Tengah yang meningkat. Hal itu disampaikan Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer dalam panggilan telepon dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS) pada hari Jumat (6/3) waktu setempat.
Konflik yang dimulai dengan serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran, yang menewaskan pemimpin tertinggi republik Islam itu, kini memasuki hari ketujuh, melibatkan negara-negara di kawasan Teluk dan menyebabkan kekacauan di sektor energi dan transportasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Negara-negara di sekitar Teluk telah terkena serangan, dengan Arab Saudi melaporkan telah mencegat sebuah rudal jelajah dan tiga drone pada hari Jumat.
Starmer berbicara dengan MBS dan meyakinkannya bahwa "Inggris siap mendukung pertahanan Kerajaan Arab Saudi jika diperlukan," demikian disampaikan juru bicara PM Inggris, dilansir kantor berita AFP, Sabtu (7/3/2026).
"Para pemimpin juga membahas peningkatan kerja sama intelijen untuk mendukung operasi pertahanan dan melindungi warga sipil," kata juru bicara tersebut.
Sebelumnya, Inggris telah mengirimkan tambahan empat jet tempur Typhoon ke Qatar untuk memperkuat "operasi pertahanan". Inggris juga akan mengerahkan HMS Dragon, kapal perusak pertahanan udara, meskipun diperkirakan baru akan berlayar minggu depan.
Pangkalan angkatan udara Inggris di Siprus diserang oleh drone buatan Iran pada hari Senin lalu. Menurut pemerintah Siprus, drone itu kemungkinan diluncurkan dari Lebanon oleh kelompok pro-Iran, Hizbullah.
Starmer telah mendapat kecaman dari beberapa suara oposisi di dalam negeri yang menuduhnya terlalu lambat menanggapi perang di Timur Tengah.
Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa pihaknya berada di jalur yang tepat untuk menguasai wilayah udara Iran. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt pada Jumat (6/3) waktu setempat. Dia menambahkan bahwa Washington memperkirakan tujuan AS dapat dicapai dalam empat hingga enam minggu.
Berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, Leavitt juga mengatakan Washington sedang mempertimbangkan calon potensial untuk memimpin Iran. Ini disampaikannya sehari setelah Presiden Donald Trump mengatakan kepada Reuters, dalam sebuah wawancara bahwa Amerika Serikat harus terlibat dalam memilih pemimpin Iran berikutnya.
"Saya tahu ada sejumlah orang yang sedang dipertimbangkan oleh badan intelijen kami dan pemerintah Amerika Serikat, tetapi saya tidak akan membahas lebih lanjut tentang itu," kata Leavitt, dilansir Al Arabiya dan Reuters, Sabtu (7/3/2026).
Sebelumnya pada tanggal 6 Maret, Trump mengatakan tidak akan ada kesepakatan yang dicapai dengan Iran kecuali "penyerahan tanpa syarat".
"Yang dimaksud Presiden adalah bahwa ketika dia, sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata AS, menentukan bahwa Iran tidak lagi menimbulkan ancaman bagi Amerika Serikat, dan tujuan Operasi Epic Fury telah sepenuhnya tercapai, maka Iran pada dasarnya akan berada di posisi penyerahan tanpa syarat, terlepas dari apakah mereka mengatakannya sendiri atau tidak," kata Leavitt.
Simak juga Video: Inggris Ogah Ikut Perang Iran Tanpa Ada Dasar Hukum yang Kuat











































