Qatar masih menutup wilayah udaranya akibat perang yang dikobarkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran. Akibatnya, ribuan orang terjebak di Qatar.
Dilansir Al-Jazeera, Selasa (3/3/2026), Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, mengatakan hampir 8.000 orang terjebak dalam transit di Qatar.
AS dan Israel memulai operasi skala besar pada Sabtu (28/2). Mereka menargetkan fasilitas komando dan kendali Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), lokasi peluncuran rudal balistik dan drone, lapangan terbang militer, dan sistem pertahanan udara Iran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Serangan AS dan Israel menewaskan sejumlah petinggi Iran. Salah satunya ialah pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Rentetan ledakan juga mengguncang sejumlah negara Teluk Arab yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (28/2) waktu setempat. Mulai dari Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, hingga Kuwait semuanya melaporkan rentetan ledakan setelah AS bersama Israel menyerang Iran.
Terbaru, Garda Revolusi Iran mengklaim serangannya telah menghancurkan sistem radar peringatan dini milik AS yang ditempatkan di Qatar. Radar militer yang disebut sebagai AN/FPS-132 itu, merupakan radar AS terbesar yang ada di kawasan Teluk.
Garda Revolusi Iran mengklaim menghancurkan sistem radar AN/FPS-132 milik AS yang memiliki jangkauan hingga 5.000 kilometer dan dirancang khusus untuk melacak rudal balistik. Belum ada tanggapan langsung dari Komando Pusat AS (CENTCOM), yang mengawasi operasi militer AS di kawasan Timur Tengah atas klaim Iran tersebut.
"Radar FP-132 Amerika yang ditempatkan di Qatar, dilengkapi dengan kemampuan khusus untuk melacak rudal balistik dan dengan jangkauan 5.000 kilometer, telah hancur total," kata IRGC dalam pernyataannya.
Lihat juga Video 'Penumpang Tertahan di Bandara Ngurah Rai gegara Perang AS-Israel Vs Iran':
(isa/haf)










































