Perang Berlanjut, AS vs Iran Sama-sama Tebar Ancaman

Perang Berlanjut, AS vs Iran Sama-sama Tebar Ancaman

Haris Fadhil - detikNews
Minggu, 01 Mar 2026 20:19 WIB
Perang Berlanjut, AS vs Iran Sama-sama Tebar Ancaman
Ledakan di Teheran, Iran (Foto: Majid Asgaripour/WANA via REUTERS)
Jakarta -

Perang antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran berlanjut. Kedua negara sama-sama melontarkan ancaman saat tensi semakin memanas.

AS bersama Israel melakukan serangan yang diberi nama operasi Epic Fury ke Iran pada Sabtu (28/2/2026). Iran kemudian membalas serangan tersebut dengan meluncurkan rudal serta drone ke sejumlah negara yang menampung pasukan AS.

Pada Minggu (1/3), Iran mengumumkan tewasnya pemimpin tertinggi mereka Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan tersebut. Iran kemudian melontarkan ancaman keras.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tangan pembalasan bangsa Iran untuk hukuman yang berat, tegas, dan patut disesalkan bagi para pembunuh Imam Umat tidak akan melepaskan mereka," kata Garda Revolusi dalam sebuah pernyataan seperti dilansir AFP.

Kantor berita Iran, IRNA, melaporkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan operasi pembalasan akan menargetkan sasaran militer dan keamanan AS serta rezim Zionis Israel secara luas dengan rudal yang lebih canggih daripada yang digunakan dalam Operasi True Promise 3. Iran bersumpah memberikan serangan yang lebih tepat dan menghancurkan.

ADVERTISEMENT

Pasukan IRGC menyatakan siap menargetkan posisi musuh tetap dan bergerak di wilayah tersebut dengan rudal dan drone Iran. Sebelumnya, IRGC telah mengumumkan pada Sabtu malam bahwa kapal Amerika, MST, terkena serangan rudal Angkatan Laut Iran.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menyatakan membalas dendam atas pembunuhan Khamenei dan pejabat senior Iran adalah 'kewajiban dan hak sah' negara tersebut. Dia menegaskan Iran akan mengerahkan semua kekuatannya.

"Republik Islam Iran menganggap mencari keadilan dan membalas dendam kepada para pelaku dan mereka yang memerintahkan kejahatan bersejarah ini sebagai kewajiban dan hak sahnya, dan akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk memenuhi tanggung jawab dan kewajiban besar ini," kata Pezeshkian seraya menyampaikan belasungkawa atas tewasnya Khamenei.

Dia juga mengatakan pembunuhan Khamenei adalah 'deklarasi perang terbuka terhadap umat Islam', khususnya Syiah. Dia mengatakan tewasnya Khamenei merupakan tragedi.

"Peristiwa tragis ini adalah cobaan terbesar yang dihadapi dunia Islam saat ini," kata Pezeshkian.

Trump Ancam Serangan Besar

Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman terbaru terhadap Iran. Dia memperingatkan Iran untuk tidak membalas serangan AS dan Israel.

"Iran baru saja menyatakan bahwa mereka akan menyerang dengan sangat keras hari ini, lebih keras dari yang pernah mereka lakukan sebelumnya. MEREKA LEBIH BAIK TIDAK MELAKUKAN ITU, KARENA JIKA MEREKA MELAKUKANNYA, KAMI AKAN MENYERANG MEREKA DENGAN KEKUATAN YANG BELUM PERNAH TERLIHAT SEBELUMNYA!" tulis Trump di akun Truth Social miliknya seperti dilansir BBC, Minggu (1/3/2026).

AS menamai serangan ke Iran itu operasi 'Epic Fury'. Dilansir NBC News, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyebut serangan militer AS terhadap Iran sebagai operasi udara paling mematikan, paling kompleks, dan paling presisi dalam sejarah.

"Rezim Iran memiliki kesempatan, namun menolak untuk membuat kesepakatan - dan sekarang mereka menanggung konsekuensinya. Selama hampir lima puluh tahun, Iran telah menargetkan dan membunuh warga Amerika, selalu mencari senjata paling ampuh di dunia untuk memajukan tujuan radikal mereka. Tadi malam, tidak seperti presiden sebelumnya, Presiden Trump mulai menangani kanker ini," kata Hegseth dalam sebuah unggahan di X.

Dia mengatakan AS 'tidak akan mentolerir rudal-rudal ampuh yang menargetkan rakyat Amerika'. Dia menyebut operasi tersebut ditujukan untuk menghancurkan rudal-rudal Iran, produksi rudal, dan angkatan lautnya.

"Seperti yang selalu dikatakan Presiden Trump sepanjang hidupnya, Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir," kata Hegseth.

Dia mengklaim AS tidak memulai konflik. Dia mengklaim Iran telah mengancam warga AS.

"Amerika Serikat tidak memulai konflik ini, tetapi kami akan mengakhirinya. Jika Anda membunuh atau mengancam warga Amerika di mana pun di dunia - seperti yang dilakukan Iran - maka kami akan memburu Anda, dan kami akan membunuh Anda," ujarnya.

Sementara itu, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut operasi 'Epic Fury' dimulai pada 28 Februari atas arahan Donald Trump. Pasukan AS dan sekutu AS mulai menyerang target pada pukul 01.15 waktu AS untuk melumpuhkan aparat keamanan rezim Iran.

AS mengklaim serangan dilakukan dengan memprioritaskan lokasi yang menimbulkan ancaman langsung. Target termasuk fasilitas komando dan kendali Korps Garda Revolusi Islam, kemampuan pertahanan udara Iran, lokasi peluncuran rudal dan drone, serta lapangan terbang militer.

Halaman 3 dari 4
(haf/haf)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads