Mahasiswa Demo Lagi, Iran Ingatkan 'Garis Merah' Tak Boleh Dilanggar

Mahasiswa Demo Lagi, Iran Ingatkan 'Garis Merah' Tak Boleh Dilanggar

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 24 Feb 2026 16:32 WIB
Massa unjuk rasa pro-pemerintah dan antipemerintah di Iran terlibat keributan di universitas setempat pada Minggu (22/2) waktu setempat (AFP)
Massa unjuk rasa propemerintah dan antipemerintah di Iran terlibat keributan di universitas setempat pada Minggu (22/2) waktu setempat (AFP)
Teheran -

Pemerintah Iran mengatakan para mahasiswa memiliki hak berunjuk rasa, tetapi semuanya harus memahami batasan atau "garis merah" yang tidak boleh dilanggar. Ini menjadi reaksi resmi pertama dari pemerintah Teheran terhadap unjuk rasa mahasiswa yang kembali muncul di kampus-kampus sejak akhir pekan lalu.

"Hal-hal sakral dan bendera merupakan dua contoh garis merah yang tidak boleh dilanggar, yang harus kita lindungi dan tidak boleh kita langgar atau menyimpang darinya, bahkan di tengah kemarahan," kata juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, seperti dilansir AFP, Selasa (24/2/2026).

Mohajerani mengatakan bahwa mahasiswa-mahasiswa Iran "memiliki luka di hati mereka dan telah melihat pemandangan yang mungkin membuat mereka kesal dan marah; kemarahan ini dapat dimengerti".

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mahasiswa di berbagai universitas di Iran memulai semester baru pada Sabtu (21/2), dengan menggelar aksi antipemerintah dan aksi propemerintah. Ini menjadi aksi pertama yang digelar mahasiswa Iran setelah penindakan brutal yang menewaskan ribuan orang dalam unjuk rasa serupa beberapa bulan lalu.

ADVERTISEMENT

Unjuk rasa pada Desember tahun lalu yang awalnya dipicu oleh kesulitan ekonomi di Iran, dengan cepat meluas menjadi demo antipemerintah yang menandai salah satu tantangan terbesar bagi kepemimpinan ulama Teheran dalam beberapa tahun terakhir.

Unjuk rasa itu menarik perhatian Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang awalnya mendukung para demonstran Iran dan mengancam akan melakukan intervensi atas nama demonstran Iran ketika otoritas Teheran melancarkan operasi penindakan brutal dan mematikan.

Namun ancaman Trump kemudian beralih ke program nuklir Iran, yang diyakini Barat bertujuan untuk mengembangkan senjata atom.

Washington dan Teheran sejak saat itu telah kembali ke meja perundingan. Tetapi pada saat bersamaan, Trump juga meningkatkan pengerahan militer besar-besaran di kawasan Timur Tengah, yang dimaksudkan untuk menekan Iran agar mencapai kesepakatan dalam perundingan dengan AS.

Unjuk rasa terbaru di Iran, menurut laporan Iranian Labor News Agency dan Anadolu Agency, memasuki hari ketiga pada Senin (23/2) waktu setempat.

Sebagian besar unjuk rasa antipemerintah digelar di universitas-universitas di ibu kota Teheran, seperti Universitas Sains dan Kebudayaan Teheran, Universitas Amirkabir, Universitas Teheran, dan Universitas Teknologi Sharif, serta Universitas Teknologi Isfahan di Provinsi Isfahan.

Dalam aksi terbarunya, para mahasiswa Iran meneriakkan slogan-slogan antipemerintah, dengan sesekali terjadi bentrokan antara mahasiswa yang mewakili berbagai aliran politik dan ideologi.

Tonton juga video "AS Tebar Ancaman, Iran: Kekuatan Dunia Pengecut Tak Bisa Paksa Kami Tunduk"

Halaman 2 dari 2
(nvc/nvc)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads