Presiden AS Donald Trump ingin menerapkan tarif global sebesar 15%, naik dari 10% yang telah diumumkannya sehari sebelumnya. Merespons hal itu, Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva mendesak Trump agar memperlakukan semua negara sama.
"Saya ingin mengatakan kepada Presiden AS Donald Trump bahwa kami tidak menginginkan Perang Dingin baru. Kami tidak menginginkan campur tangan di negara lain, kami ingin semua negara diperlakukan secara setara," kata Lula kepada wartawan di New Delhi, dilansir AFP, Minggu (22/2/2026).
Diketahui, Mahkamah Agung AS yang mayoritas konservatif telah memutuskan dengan suara enam banding tiga bahwa undang-undang tahun 1977 yang diandalkan Trump untuk memberlakukan pungutan mendadak pada negara-negara tertentu, yang mengacaukan perdagangan global, "tidak memberi wewenang kepada Presiden untuk memberlakukan tarif".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lula mengatakan dia tidak ingin menanggapi keputusan Mahkamah Agung negara lain, tetapi berharap hubungan Brasil dengan Amerika Serikat "akan kembali normal" segera.
Pemimpin sayap kiri veteran Brasil ini diperkirakan akan melakukan perjalanan ke Washington bulan depan untuk bertemu dengan Trump.
"Saya yakin hubungan Brasil-AS akan kembali normal setelah percakapan kita," kata Lula.
Ia menambahkan bahwa Brasil hanya ingin "hidup damai, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kehidupan rakyat kami".
Hubungan antara Brasil dan Amerika Serikat tampaknya membaik setelah berbulan-bulan permusuhan antara Washington dan Brasilia.Akibatnya, pemerintahan Trump telah mengecualikan ekspor utama Brasil dari tarif 40 persen yang telah dikenakan pada negara Amerika Selatan itu tahun lalu.
"Dunia tidak membutuhkan lebih banyak gejolak, dunia membutuhkan perdamaian," kata Lula yang tiba di India pada hari Rabu untuk menghadiri KTT tentang kecerdasan buatan.
Simak juga Video: Trump Umumkan Tarif Global Naik Lagi Jadi 15%











































