Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Iran selalu menempuh jalur diplomasi sambil tetap siap berperang.
Ia menyampaikan pernyataan tersebut di acara Kongres Nasional Kebijakan Luar Negeri Republik Islam di Teheran, ibu kota Iran pada hari Minggu (8/2) waktu setempat, dua hari setelah Iran dan Amerika Serikat mengadakan pembicaraan nuklir tidak langsung di Oman, menyusul ketegangan yang meningkat selama beberapa minggu akibat retorika perang AS terhadap Iran.
"Kita adalah bangsa yang berdiplomasi, kita juga bangsa yang siap berperang; bukan dalam arti kita mencari perang, tetapi... kita siap berperang agar tidak ada yang berani melawan kita," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, tambahnya, prinsip utama kebijakan luar negeri Iran adalah martabat, yang berarti menjaga kemerdekaan, menolak dominasi, dan mempertahankan kedaulatan negara.
Araghchi lebih lanjut menekankan bahwa respons Iran bergantung pada nada yang diadopsi oleh pihak lain terhadap negara tersebut. Dia mengatakan bahwa diplomasi akan disambut dengan bahasa yang sama, seperti halnya dengan penggunaan kekuatan dan bahasa penghormatan.
Sementara itu, ia menyatakan kesiapan Teheran untuk menyelesaikan ambiguitas tentang program nuklir damainya. Dia pun menekankan bahwa diplomasi adalah satu-satunya cara untuk melakukannya karena jalur lain belum membuahkan hasil.
"Mereka (musuh) membom fasilitas kami, tetapi mereka gagal mencapai hasil yang mereka inginkan. Pengetahuan tidak dapat dihancurkan oleh pemboman; teknologi tidak dapat dihancurkan. Ada teknologi dan ada pengetahuan, jadi tidak ada pilihan selain bernegosiasi," katanya.
Selain itu, dalam pernyataannya, diplomat senior tersebut menekankan bahwa hak resmi Iran atas program energi nuklir damai memang ada dan negara tersebut menginginkan haknya dihormati.
"Saya percaya rahasia kekuatan Republik Islam Iran terletak pada kemampuannya untuk melawan intimidasi, dominasi, dan tekanan dari pihak lain," kata Araghchi.
Simak juga Video Trump Woro-woro soal Armada Besar, Iran Tak Gentar











































