Menanti Hasil Perundingan Iran dan AS di Oman

Menanti Hasil Perundingan Iran dan AS di Oman

Haris Fadhil - detikNews
Sabtu, 07 Feb 2026 06:01 WIB
Menanti Hasil Perundingan Iran dan AS di Oman
Bendera Iran dan AS (Foto: Reuters)
Teheran -

Iran dan Amerika Serikat (AS) melakukan perundingan di Oman. Hasil perundingan ini pun dinantikan banyak pihak.

Dilasir AFP, Jumat (6/2/2026), Teheran mengharapkan partisipasi serius dari Washington dalam perundingan ini. AS sendiri berupaya melihat apakah ada prospek kemajuan diplomatik terkait program nuklir Iran serta isu-isu lainnya.

Perundingan ini akan menjadi pertemuan pertama antara kedua negara sejak AS bergabung dengan Israel dalam perang melawan Iran pada Juni 2025. Saat itu, AS mengebom situs-situs nuklir Teheran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lokasi, waktu, dan format perundingan itu dikonfirmasi oleh kedua belah pihak setelah berbagai laporan yang menyebut adanya ketidaksepakatan yang menggagalkan pembicaraan tersebut. Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi, dan Utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dijadwalkan memimpin delegasi masing-masing negara dalam perundingan yang akan digelar di Muscat, ibu kota Oman.

Oman selama ini bertindak sebagai mediator antara kedua negara. Laporan kantor berita IRNA menyebut Araghchi telah tiba di Muscat pada Kamis (5/2) malam waktu setempat.

ADVERTISEMENT

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan pihaknya memiliki 'tanggung jawab untuk tidak melewatkan kesempatan apa pun untuk menggunakan diplomasi' guna menjaga perdamaian. Iran mengharapkan pihak AS juga akan 'berpartisipasi dalam proses ini dengan bertanggung jawab, realistis, dan serius'.

Pertemuan antara delegasi Iran dan AS ini berlangsung kurang dari sebulan setelah puncak gelombang unjuk rasa nasional terhadap kepemimpinan ulama di Iran, yang menurut para kelompok HAM, ditindas dengan tindakan keras yang belum pernah terjadi sebelumnya dan menyebabkan ribuan orang tewas.

"Mereka sedang bernegosiasi," kata Presiden AS Donald Trump saat berkomentar soal Iran pada Kamis (5/2) waktu setempat.

"Mereka tidak ingin kita menyerang mereka, kita memiliki armada besar yang menuju ke sana," sebutnya, merujuk pada kelompok kapal induk AS yang berulang kali disebutnya sebagai 'armada'.

Trump awalnya mengancam akan melakukan tindakan militer terhadap Iran atas penindakan keras terhadap para demonstran. Trump bahkan sempat mengatakan kepada demonstran Iran bahwa 'bantuan sedang dalam perjalanan'.

Namun beberapa hari terakhir, retorika Trump lebih berfokus pada pengendalian program nuklir Iran yang dikhawatirkan Barat bertujuan untuk membuat bom. Tidak diketahui secara jelas apakah perundingan nuklir terbaru ini akan membuat Iran dan AS mencapai kesepakatan.

Sempat terjadi ketegangan menjelang perundingan digelar, salah satunya mengenai apakah pertemuan itu harus menyertakan negara-negara regional dan membahas dukungan Teheran terhadap kelompok proksi dan program rudal balistiknya. Dua kekhawatiran AS itu telah ditolak oleh Iran.

Beberapa pejabat Iran yang tidak disebut namanya, seperti dikutip New York Times, mengatakan AS setuju jika perundingan akan mengecualikan aktor-aktor regional dan fokus pada masalah nuklir. Namun, perundingan itu juga akan membahas rudal serta kelompok militan 'dengan tujuan menghasilkan kerangka kerja untuk kesepakatan'.

"Iran terus menunjukkan ketidakfleksibelan dalam menanggapi tuntutan AS, yang mengurangi kemungkinan bahwa Iran dan Amerika Serikat akan dapat mencapai solusi diplomatik," kata Institut Studi Perang yang berbasis di AS.

Menlu Iran Araghchi sendiri telah menegaskan negaranya siap mempertahankan diri dari 'tuntutan berlebihan atau adventurisme' AS. Dia mengatakan pihaknya akan mengambil pendekatan menggunakan diplomasi untuk mengamankan kepentingan nasional Iran.

Dalam pernyataan terpisah via media sosial X, Araghchi juga menyampaikan pesan kepada AS untuk 'saling menghormati'.

"Iran memasuki dunia diplomasi dengan mata terbuka dan ingatan yang kuat tentang tahun lalu. Kami terlibat dengan iktikad baik dan teguh bagi hak-hak kami. Komitmen harus dihormati. Kedudukan yang setara, saling menghormati, dan kepentingan bersama bukanlah retorika -- itu adalah keharusan dan pilar dari kesepakatan yang bertahan lama," cetus Araghchi.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan delegasi AS berniat untuk menjajaki kemungkinan 'nol kapasitas nuklir' bagi Iran dalam perundingan di Oman. Leavitt, dalam pernyataannya, memperingatkan bahwa Trump memiliki 'banyak opsi selain diplomasi'.

Lihat juga Video 'Trump Tekan Iran dengan Kapal Perang, Harap Negosiasi yang Memuaskan':

Halaman 2 dari 3
(haf/haf)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads