Iran dan Amerika Serikat (AS) bersiap untuk melakukan perundingan nuklir di Oman pada Jumat (6/2) waktu setempat. Teheran mengharapkan partisipasi serius dari Washington, sedangkan AS berupaya melihat apakah ada prospek kemajuan diplomatik terkait program nuklir Iran serta isu-isu lainnya.
Perundingan ini, seperti dilansir AFP, Jumat (6/2/2026), akan menjadi pertemuan pertama antara kedua negara sejak AS bergabung dengan Israel dalam perang melawan Iran pada Juni tahun lalu, dengan mengebom situs-situs nuklir Teheran.
Lokasi, waktu, dan format perundingan itu dikonfirmasi oleh kedua belah pihak, setelah berbagai laporan yang menyebut adanya ketidaksepakatan yang menggagalkan pembicaraan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi, dan Utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dijadwalkan akan memimpin memimpin delegasi masing-masing negara dalam perundingan yang akan digelar di Muscat, ibu kota Oman, yang secara berkala bertindak sebagai mediator antara kedua negara.
Laporan kantor berita IRNA menyebut Araghchi telah tiba di Muscat pada Kamis (5/2) malam waktu setempat.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dalam pernyataan pada Kamis (5/2) malam, menegaskan bahwa pihaknya memiliki "tanggung jawab untuk tidak melewatkan kesempatan apa pun untuk menggunakan diplomasi" guna menjaga perdamaian.
Teheran, sebut Baghaei dalam pernyataannya, mengharapkan agar "pihak Amerika juga akan berpartisipasi dalam proses ini dengan bertanggung jawab, realistis, dan serius".
Pertemuan antara delegasi Iran dan AS ini berlangsung kurang dari sebulan setelah puncak gelombang unjuk rasa nasional terhadap kepemimpinan ulama di Iran, yang menurut para kelompok HAM, ditindas dengan tindakan keras yang belum pernah terjadi sebelumnya dan menyebabkan ribuan orang tewas.
"Mereka sedang bernegosiasi," kata Presiden AS Donald Trump saat berkomentar soal Iran pada Kamis (5/2) waktu setempat.
"Mereka tidak ingin kita menyerang mereka, kita memiliki armada besar yang menuju ke sana," sebutnya, merujuk pada kelompok kapal induk AS yang berulang kali disebutnya sebagai "armada".
Trump awalnya mengancam akan melakukan tindakan militer terhadap Teheran atas penindakan keras terhadap para demonstran, dan bahkan sempat mengatakan kepada demonstran Iran bahwa "bantuan sedang dalam perjalanan".
Namun beberapa hari terakhir, retorika Trump lebih berfokus pada pengendalian program nuklir Iran, yang dikhawatirkan Barat bertujuan untuk membuat bom.
Tidak diketahui secara jelas apakah perundingan nuklir terbaru ini akan mampu membuat Iran dan AS mencapai kesepakatan. Sempat terjadi ketegangan menjelang perundingan digelar, salah satunya mengenai apakah pertemuan itu harus menyertakan negara-negara regional dan membahas dukungan Teheran terhadap kelompok proksi dan program rudal balistiknya -- dua kekhawatiran AS itu telah ditolak oleh Iran.
Beberapa pejabat Iran yang tidak disebut namanya, seperti dikutip New York Times, mengatakan bahwa AS setuju jika perundingan akan mengecualikan aktor-aktor regional, dan meskipun perundingan fokus pada masalah nuklir, namun juga akan membahas rudal serta kelompok militan "dengan tujuan menghasilkan kerangka kerja untuk kesepakatan".
"Iran terus menunjukkan ketidakfleksibelan dalam menanggapi tuntutan AS, yang mengurangi kemungkinan bahwa Iran dan Amerika Serikat akan dapat mencapai solusi diplomatik," kata Institut Studi Perang yang berbasis di AS.
Lihat juga Video: Iran Tinjau Diplomasi dengan AS di Tengah Ancaman Perang Regional











































