Katanya Gencatan Senjata tapi Israel Masih Saja Serang Gaza

Katanya Gencatan Senjata tapi Israel Masih Saja Serang Gaza

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 01 Feb 2026 22:03 WIB
Katanya Gencatan Senjata tapi Israel Masih Saja Serang Gaza
Foto: Ledakan akibat serangan Israel di Gaza pada 31 Januari 2026 (AFP/BASHAR TALEB)
Gaza -

Israel masih tetap melancarkan serangan ke Gaza, Palestina di tengah gencatan senjata yang masih berlaku. Sebanyak 32 orang dilaporkan tewas termasuk anak-anak.

Dilansir BBC, Minggu (1/2/2026), Badan pertahanan sipil yang dioperasikan oleh Hamas mengatakan anak-anak dan perempuan termasuk di antara korban tewas akibat serangan pada Sabtu (31/1). Helikopter tempur disebut menghantam tenda yang menampung pengungsi di kota Khan Younis di Gaza selatan.

Gencatan senjata di Gaza telah berlangsung sejak 10 Oktober tahun lalu. Kini, gencatan senjata telah memasuki fase kedua, namun serangan Israel masih dilancarkan ke Gaza.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Warga Palestina menggambarkan serangan ini sebagai yang terberat sejak fase kedua gencatan senjata. Fase kedua sendiri mulai berlaku awal bulan ini.

ADVERTISEMENT

Militer Israel mengkonfirmasi sejumlah serangan dilakukan sebagai tanggapan atas apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran Hamas terhadap perjanjian tersebut pada Jumat (30/1). Israel maupun Hamas saling menuduh melanggar gencatan senjata yang mulai berlaku tahun lalu.

Dalam sebuah pernyataan, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan 'delapan teroris diidentifikasi keluar dari infrastruktur teror bawah tanah di Rafah timur'. Daerah itu ditempati pasukan Israel berdasarkan perjanjian Oktober.

IDF menyatakan mereka, bersama dengan Badan Keamanan Israel (ISA), telah menyerang berbagai lokasi termasuk 'empat komandan dan teroris tambahan' serta fasilitas penyimpanan senjata, lokasi pembuatan senjata, dan 'dua lokasi peluncuran milik Hamas di Jalur Gaza tengah'.

Hamas mengutuk serangan tersebut dan mendesak AS untuk mengambil tindakan. Hamas mengatakan pelanggaran yang terus berlanjut menunjukkan pemerintah Israel terus melanjutkan perang genosida brutalnya terhadap Jalur Gaza.

Hamas mengatakan tujuh korban berasal dari satu keluarga pengungsi di Khan Younis. Juru bicara pertahanan sipil menambahkan serangan tersebut mengenai apartemen tempat tinggal, tenda, tempat penampungan, dan kantor polisi.

Para pejabat di rumah sakit Shifa di Kota Gaza mengatakan serangan udara di kota itu mengenai sebuah apartemen tempat tinggal, menewaskan tiga anak dan dua wanita.

"Kami menemukan tiga keponakan kecil saya di jalan. Mereka mengatakan 'gencatan senjata' dan sebagainya. Apa yang dilakukan anak-anak itu? Apa yang telah kami lakukan?" kata paman dari tiga anak yang tewas, Samer al-Atbash, kepada kantor berita Reuters.

Rekaman video dan gambar dari seluruh Gaza menunjukkan beberapa jenazah diangkat dari reruntuhan dan sejumlah bangunan hancur. Serangan tersebut terjadi menjelang pembukaan kembali penyeberangan Rafah, perbatasan Gaza dengan Mesir, pada hari Minggu ini setelah IDF menemukan jenazah sandera terakhir Israel awal pekan ini.

Kementerian Luar Negeri Mesir mengutuk serangan tersebut dalam sebuah pernyataan dan mendesak semua pihak untuk menunjukkan pengekangan maksimal. Qatar, salah satu mediator utama selama pembicaraan gencatan senjata, juga mengecam pelanggaran berulang Israel.

Pada bulan Januari 2026, utusan khusus AS Steve Witkoff mengumumkan dimulainya fase kedua kesepakatan gencatan senjata. Di bawah fase pertama, Hamas dan Israel menyepakati gencatan senjata pada Oktober 2025, serta pertukaran sandera-tahanan, penarikan sebagian pasukan Israel, dan peningkatan bantuan.

Israel meluncurkan serangan besar-besaran ke Gaza dengan dalih membalas serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Serangan Hamas itu menewaskan sekitar 1.200 orang dan 251 orang menjadi sandera.

Serangan militer Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 71.660 warga Gaza. Setidaknya, 509 warga Palestina telah tewas sejak gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober 2025. Empat tentara Israel juga tewas.

Angka-angka dari kementerian kesehatan dianggap dapat diandalkan oleh PBB dan kelompok hak asasi manusia lainnya, serta banyak dikutip oleh media internasional. Israel tidak mengizinkan organisasi berita, termasuk BBC, masuk ke Gaza untuk melakukan pelaporan independen.

Perbatasan Mesir-Rafah Akan Dibuka Sebagian

Israel akan membuka kembali sebagian penyeberangan Rafah antara Jalur Gaza, Palestina, dengan Mesir. Hal itu dilakukan usai berbulan-bulan desakan oleh organisasi kemanusiaan.

Dilansir AFP, Minggu (1/2), akses itu akan dibatasi hanya untuk pergerakan orang. Pembukaan kembali ini terjadi di tengah kekerasan yang terus berlanjut di wilayah Palestina.

Penyeberangan Rafah merupakan gerbang vital bagi warga sipil dan bantuan. Tetapi, perbatasan itu ditutup sejak pasukan Israel menguasainya pada Mei 2024.

Pembukaan kembali secara singkat dan terbatas sempat dilakukan pada awal 2025. Israel sebelumnya mengatakan tidak akan membuka kembali penyeberangan tersebut sampai jenazah Ran Gvili, sandera Israel terakhir yang ditahan di Gaza, dikembalikan.

Jenazahnya telah ditemukan beberapa hari lalu dan dia dimakamkan di Israel.

"Perlintasan Rafah akan dibuka pada hari Minggu mendatang (1 Februari) untuk kedua arah, hanya untuk pergerakan orang yang terbatas," kata COGAT, badan kementerian pertahanan Israel yang mengawasi urusan sipil di wilayah Palestina yang diduduki.

Masuk dan keluar akan diizinkan dalam koordinasi dengan Mesir setelah pemeriksaan keamanan individu sebelumnya oleh Israel dan di bawah pengawasan misi Uni Eropa. Namun, detail penting masih belum jelas, termasuk berapa banyak orang yang akan diizinkan menyeberang dan apakah mereka yang ingin kembali ke Gaza akan diizinkan masuk.

Sebuah sumber di perbatasan mengatakan bahwa sebagian besar pembukaan akan dikhususkan untuk persiapan dan pengaturan logistik. Perlintasan tersebut dijadwalkan dibuka Minggu ini untuk percobaan dan memungkinkan lewatnya individu yang terluka.

Pembukaan kembali secara reguler dijadwalkan pada Senin (2/2). Namun, belum ada kesepakatan yang dicapai mengenai jumlah warga Palestina yang diizinkan masuk atau keluar.

Mesir berencana untuk mengizinkan 'semua warga Palestina yang diizinkan Israel untuk meninggalkan' wilayah tersebut.

"Setiap hari yang berlalu menguras energi dan memperburuk kondisi saya. Saya menunggu setiap saat untuk pembukaan penyeberangan darat Rafah," kata Mohammed Shamiya, 33 tahun, yang menderita penyakit ginjal dan membutuhkan perawatan dialisis di luar negeri.

Rafah adalah satu-satunya penyeberangan masuk dan keluar Gaza yang tidak melewati Israel. Penyeberangan tersebut terletak di wilayah yang dikuasai pasukan Israel setelah penarikan mereka di belakang apa yang disebut 'Garis Kuning' berdasarkan kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi AS yang mulai berlaku pada 10 Oktober 2025.

Halaman 2 dari 2
(lir/lir)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads