Trump Kaji Serang Iran untuk Picu Aksi Protes Baru

Trump Kaji Serang Iran untuk Picu Aksi Protes Baru

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 30 Jan 2026 14:19 WIB
Trump Kaji Serang Iran untuk Picu Aksi Protes Baru
Presiden AS Donald Trump (dok. Getty Images via AFP/ANDREW HARNIK)
Washington DC -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sedang mempertimbangkan berbagai opsi terhadap Iran. Salah satu opsi itu melibatkan serangan terarah terhadap pasukan keamanan dan para pemimpin Iran untuk menginspirasi para demonstran.

Pertimbangan semacam itu, seperti dilansir Reuters dan Al Arabiya, Jumat (30/1/2026), diungkapkan oleh sejumlah sumber yang dikutip Reuters dalam laporannya pada Kamis (29/1) waktu setempat.

Para pejabat regional Timur Tengah, secara terpisah, mengatakan bahwa kekuatan udara saja tidak akan mampu menggulingkan penguasa ulama yang memerintah sejak lama atas Iran.

Dua sumber dari pemerintah AS yang mengetahui diskusi tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa Trump ingin menciptakan kondisi untuk "perubahan rezim", setelah penindakan keras terhadap unjuk rasa, yang menewaskan ribuan orang, di berbagai wilayah Iran pada awal bulan ini.

Untuk bisa mewujudkan keinginannya itu, menurut kedua sumber tersebut, Trump sedang mempertimbangkan opsi-opsi untuk menyerang para komandan dan institusi Iran, yang dianggap oleh AS sebagai yang paling bertanggung jawab atas kekerasan terhadap demonstran.

Langkah semacam itu diharapkan dapat memberikan kepercayaan diri pada para demonstran di Iran bahwa mereka dapat menguasai gedung-gedung pemerintahan dan keamanan.

Trump, sebut salah satu sumber dan seorang pejabat AS yang enggan disebut namanya, belum membuat keputusan akhir tentang tindakan yang akan diambil terhadap Iran, termasuk apakah akan mengambil jalur militer.

Keterangan sumber kedua dari kalangan pemerintahan AS, yang dikutip Reuters, menyebut bahwa opsi yang sedang dibahas oleh para penasihat Trump juga mencakup serangan yang jauh lebih besar, yang dimaksudkan untuk memberikan dampak jangka panjang, mungkin terhadap rudal buatan Teheran yang mampu mencapai sekutu-sekutu AS di Timur Tengah atau program pengayaan nuklir Iran.

Sejauh ini, Iran enggan bernegosiasi membahas pembatasan rudal, yang dianggap negara itu sebagai satu-satunya pencegahan terhadap Israel.

Kedatangan kapal induk AS dan sejumlah kapal perang pendukung di Timur Tengah pekan ini, telah memperluas kemampuan Trump untuk berpotensi melakukan tindakan militer, setelah dia berulang kali mengancam intervensi atas tindakan keras Iran terhadap demonstran.

Namun, sejumlah pejabat regional dan Barat, yang pemerintahannya diberi pengarahan soal diskusi di Gedung Putih, menyatakan kekhawatiran bahwa serangan AS bukannya mendorong warga Iran kembali berdemo di jalanan, namun malah melemahkan gerakan yang meluas setelah penindasan berdarah.

Dituturkan Direktur Program Iran pada Middle East Institute, Alex Vatanka, bahwa tanpa pembelotan militer skala besar, unjuk rasa di Iran tetap "heroik tetapi kalah persenjataan".

Sementara itu, salah satu sumber Barat meyakini tujuan Trump tampaknya adalah memicu perubahan kepemimpinan di Iran, daripada "menggulingkan rezim". Situasi itu mirip dengan Venezuela, di mana intervensi AS menggantikan presiden tanpa perubahan pemerintahan secara menyeluruh.

Dalam sidang Senat AS membahas Venezuela pada Rabu (28/1), Menteri Luar Negeri Marco Rubio melontarkan "harapan" untuk transisi serupa jika pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, lengser. Meskipun dia mengakui situasi di Iran jauh lebih rumit.

Rubio mengakui tidak tahu jelas soal siapa yang akan mengambil alih jika Khamenei kehilangan kekuasaan.

Terlepas dari itu, para pejabat AS berpendapat bahwa transisi di Iran dapat memecah kebuntuan nuklir, dan pada akhirnya membuka pintu bagi hubungan kerja sama yang lebih erat dengan Barat. Namun, ada peringatan soal tidak adanya penerus yang jelas untuk Khamenei.

Jika terjadi kekosongan kekuasaan di Iran, Garda Revolusi Iran (IRGC) dipercayai dapat mengambil alih, memperkuat pemerintahan garis keras, serta semakin memperdalam kebuntuan nuklir dan ketegangan regional.

Tonton juga video "Trump Masih Ingin Bicara dengan Iran, Pinta 2 Hal Ini"

Halaman 2 dari 2
(nvc/ita)


Berita Terkait