Iran Tuding AS-Israel Jadi Dalang di Balik Cap Teroris ke Garda Revolusi

Iran Tuding AS-Israel Jadi Dalang di Balik Cap Teroris ke Garda Revolusi

Yogi Ernes - detikNews
Jumat, 30 Jan 2026 00:01 WIB
Iran Tuding AS-Israel Jadi Dalang di Balik Cap Teroris ke Garda Revolusi
Foto: Bendera Iran (Middle East Monitor)
Jakarta -

Uni Eropa segera memasukkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) ke dalam daftar teroris blok tersebut. Iran mengecam keras keputusan itu dan menuding Amerika Serikat (AS) dan Israel sebagai dalang.

"Keputusan yang tidak berdasar dan tidak beralasan ini, jauh dari rasionalitas apa pun, telah dibuat di bawah tekanan presiden Amerika Serikat yang delusional dan bodoh serta rezim Zionis yang teroris dan pembunuh anak-anak," bunyi keterangan Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran dilansir Al Jazeera, Kamis (29/1/2026).

Iran juga mengatakan keputusan Uni Eropa itu melanggar banyak hukum internasional dan kedaulatan Iran sebagai negara berdaulat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum dan peraturan internasional, Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan prinsip-prinsip dasar penghormatan terhadap kedaulatan nasional negara-negara," bunyi pernyataan tersebut.

ADVERTISEMENT

Pernyataan itu juga memperingatkan bahwa konsekuensi berbahaya dari keputusan yang bermusuhan dan provokatif ini akan ditanggung langsung oleh para pembuat kebijakan Eropa.

Seperti diketahui, para menteri luar negeri Uni Eropa akan segera memasukkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) ke dalam "daftar teroris" blok tersebut setelah penindakan brutal terhadap demonstrasi massal. Demikian diumumkan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kalla.

"Jika Anda bertindak sebagai teroris, Anda juga harus diperlakukan sebagai teroris," kata diplomat senior tersebut kepada wartawan menjelang pertemuan para menteri Uni Eropa di Brussels, Belgia, dilansir kantor berita AFP, Kamis (29/1/2026).

Dia mengatakan langkah tersebut menempatkan IRGC pada level yang sama dengan kelompok-kelompok seperti al-Qaeda dan ISIS.

"Perkiraannya adalah bahwa saluran diplomatik akan tetap terbuka bahkan setelah Garda Revolusi dimasukkan ke dalam daftar hitam," kata Kallas.

Langkah simbolis dari Uni Eropa ini akan mengirimkan pesan kecaman yang kuat kepada Iran, setelah ribuan orang dilaporkan tewas selama demonstrasi yang mengguncang negara tersebut.

Blok yang beranggotakan 27 negara ini juga akan menyetujui larangan visa dan pembekuan aset terhadap 21 entitas negara dan pejabat Iran -- yang diperkirakan akan mencakup menteri dalam negeri Iran -- atas penindasan demonstran tersebut.

Otoritas Iran telah mengakui bahwa ribuan orang tewas selama protes, dengan jumlah korban mencapai lebih dari 3.000 orang. Namun, Iran mengatakan mayoritas korban tewas adalah anggota pasukan keamanan atau warga sipil yang tewas akibat tembakan "perusuh."

Kelompok-kelompok hak asasi manusia membantah hal ini, dengan mengatakan jumlah korban jauh lebih tinggi dan berpotensi mencapai puluhan ribu orang. Mereka menyebut bahwa para demonstran tewas akibat tembakan langsung dari pasukan keamanan termasuk IRGC.

IRGC adalah sayap ideologis militer Teheran dan dibentuk setelah revolusi 1979 untuk melindungi kepemimpinan ulama. Garda Revolusi mengendalikan atau memiliki perusahaan di seluruh perekonomian Iran, termasuk sektor-sektor strategis utama

Halaman 2 dari 2
(ygs/dek)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini