Eks Diplomat Korut Sebut Kim Jong Un Sadar Bisa Bernasib seperti Maduro

Eks Diplomat Korut Sebut Kim Jong Un Sadar Bisa Bernasib seperti Maduro

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 28 Jan 2026 14:32 WIB
Eks Diplomat Korut Sebut Kim Jong Un Sadar Bisa Bernasib seperti Maduro
Kim Jong Un saat mengawasi uji coba peluncuran rudal Korut di dekat Semenanjung Korea tahun lalu (dok. KCNA via REUTERS)
Seoul -

Operasi dramatis Amerika Serikat (AS) dalam menggulingkan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro dari kekuasaannya pada awal Januari ini, dinilai menjadi skenario mimpi buruk bagi pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un.

Menurut seorang mantan diplomat Korut, yang telah membelot ke Korea Selatan (Korsel), seperti dilansir AFP, Rabu (28/1/2026), penggulingan Maduro mungkin membuat Kim Jong Un menyadari bahwa dirinya juga rentan terhadap operasi "pemenggalan" semacam itu.

Lee Ik Kyu, mantan utusan diplomatik Korut untuk Kuba, mengatakan dalam wawancara dengan AFP bahwa ekstraksi kilat Washington di Caracas pada awal bulan ini menjadi skenario terburuk bagi Kim Jong Un, mantan bosnya. Lee menjabat sebagai penasihat politik Korut di Kuba dari tahun 2019 hingga tahun 2023 lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kim pasti merasa bahwa apa yang disebut sebagai operasi 'pemenggalan' benar-benar mungkin terjadi," kata Lee, yang sekarang bekerja untuk lembaga think-tank di Seoul, Korea Selatan.

ADVERTISEMENT

Kepemimpinan Korut telah sejak lama menuduh AS berupaya menggulingkan mereka dari kekuasaan, dan menegaskan bahwa program nuklir serta rudal diperlukan sebagai pencegah terhadap upaya-upaya perubahan rezim oleh Washington.

Dikatakan oleh Lee, yang membelot ke Korsel pada November 2023, bahwa penggulingan Maduro diperkirakan memicu kepanikan di antara kepemimpinan Korut yang terobsesi dengan keamanan.

Lee mengatakan bahwa Kim Jong Un akan "merombak seluruh sistem terkait keamanannya dan terkait tindakan balasan jika terjadi serangan terhadap dirinya".

Sejak menetap di Korsel, Lee yang berusia 53 tahun telah menjadi komentator vokal tentang Korut. Dia menulis kolom reguler untuk surat kabar terbesar di Korsel, dan menerbitkan memoar dalam bahasa Jepang berjudul "Kim Jong Un yang Saya Saksikan", dengan versi bahasa Inggris dalam proses penerbitan.

Lee menuturkan bahwa tinggal di Korsel, dan menyaksikan gejolak politik yang terjadi beberapa tahun terakhir, telah memperdalam apresiasinya terhadap sistem demokrasi liberal.

"Korea Selatan bisa tetap berjalan tanpa presiden selama berbulan-bulan setelah pemakzulan. Bahkan tanpa presiden, sistemnya bekerja dengan sangat baik," sebutnya, merujuk pada pemakzulan Yoon Suk Yeol sebagai Presiden Korsel beberapa waktu lalu.

Hal semacam itu tidak akan terpikirkan di Korut. "Korea Utara telah sepenuhnya mendewakan kepemimpinannya. Mereka tidak dapat memberikan gagasan kepada rakyatnya bahwa apa yang disebut sebagai pemimpin tertinggi mereka benar-benar dapat digulingkan oleh kehendak rakyat," ucapnya.

Tonton juga video "Kode Keras Korut! Kim Jong Un Keliling Pabrik Rudal"

Halaman 2 dari 2
(nvc/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads