Muncul Lagi Spekulasi soal Memar di Tangan Trump

Muncul Lagi Spekulasi soal Memar di Tangan Trump

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 24 Jan 2026 08:03 WIB
Davos -

Memar kembali terlihat di tangan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat menghadiri Forum ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss. Trump pun menepis spekulasi yang muncul gara-gara memar di tangannya muncul lagi.

Trump sering terlihat dengan memar di tangannya dalam berbagai acara publik sejak kembali menjabat Presiden AS pada 2025. Memar sebelumnya terlihat di tangan kanan Trump dan sering disembunyikan dengan plester atau riasan.

Gedung Putih mengatakan bahwa memar di tangan kanan Trump itu disebabkan oleh kombinasi seringnya dia berjabat tangan dan aspirin yang dikonsumsi untuk kesehatan kardiovaskularnya. Hal itu disebut dapat menyebabkan kecenderungan memar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, dalam foto-foto terbaru saat Forum Ekonomi Dunia di Davos, seperti dilansir AFP dan CNN, Jumat (23/1/2026), memar gelap terlihat di tangan kiri Trump. Foto-foto memar di tangan kiri Trump yang diambil pada Kamis (22/1) itu dengan cepat menyebar di media sosial disertai berbagai spekulasi.

Trump pun dengan cepat menepisnya. Dia mengaku terbentur meja.

ADVERTISEMENT

"Saya terbentur meja. Saya mengoleskan sedikit, apa namanya? Krim. Tapi saya terbentur," kata Trump saat berbicara kepada wartawan di pesawat kepresidenan Air Force One ketika ditanya soal memar tersebut.

Trump mengatakan dosis aspirin yang tinggi membuat dirinya rentan mengalami memar. Hal ini sebelumnya telah disebutkan oleh dokter yang menangani Trump.

"Saya akan mengatakan, minumlah aspirin jika Anda menyayangi jantung Anda, tetapi jangan minum aspirin jika Anda tidak ingin mengalami sedikit memar," ujar Trump kepada wartawan di Air Force One.

Dia mengaku meminum aspirin dosis tinggi. Dia mengatakan dokter telah meminta dirinya tak meminum aspirin karena kondisi tubuhnya sehat. Namun, Trump mengatakan dirinya tak mau ambil risiko.

"Saya minum aspirin dosis tinggi, dan ketika Anda minum aspirin dosis tinggi, mereka memberitahu Anda, Anda akan mengalami memar. Dokter berkata, 'Anda tidak perlu minum itu, Pak, Anda sangat sehat'. Saya berkata, 'Saya tidak mau mengambil risiko'," tuturnya.

Gedung Putih juga menyampaikan penjelasan serupa pada Kamis (22/1) waktu setempat. Penjelasan itu disampaikan sebagai upaya menepis kekhawatiran.

"Pada acara Dewan Perdamaian hari ini di Davos, Presiden Trump membenturkan tangannya pada sudut meja untuk penandatanganan, menyebabkan memar," kata Sekretaris Gedung Putih, Karoline Leavitt.

Seorang pejabat Gedung Putih juga membagikan foto-foto Trump di Davos pada Rabu (21/1) dan Kamis (22/1) pagi, yang disebut tidak menunjukkan memar di tangan Trump. Menurut sejumlah video, pada awal seremoni penandatanganan Dewan Perdamaian, tidak terlihat memar parah pada tangan Trump.

Namun sekitar 10 menit kemudian, terlihat memar di tangan Trump. Hal itu terjadi setelah dia duduk di meja dan menandatangani beberapa dokumen.

Fresh bruising could be seen on the back of US President Donald Trump's left hand during an event in Davos, Switzerland (Fabrice COFFRINI/AFP)Memar di tangan kiri Trump saat menghadiri WEF di Davos (Foto: Fabrice COFFRINI/AFP)

Trump Pernah Klaim Kesehatannya Sempurna

Pada awal Januari lalu, Trump juga pernah menyalahkan aspirin atas memar besar di tangannya. Dia juga membantah tertidur saat menghadiri pertemuan publik.

Hal itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan The Wall Street Journal yang diterbitkan Kamis (1/1) sebagaimana dilansir AFP. Dalam wawancara itu, Trump awalnya mengubah pernyataan sebelumnya tentang pemindaian MRI pada Oktober.

Dia mengatakan bahwa itu sebenarnya adalah pemindaian CT yang lebih cepat. Trump yang dilantik pada usia 79 tahun, merupakan orang tertua yang menjabat sebagai presiden AS.

Dia mengatakan 'kesehatan saya sempurna' dan menyatakan frustrasi dengan pengawasan terhadap kesehatannya. Namun, tahun pertama masa jabatan keduanya telah menimbulkan pertanyaan yang semakin banyak tentang kondisi kesehatan pria berusia 79 tahun tersebut.

Tangan kanannya menunjukkan memar yang terus-menerus dan sering ditutupi dengan riasan tebal dan terkadang perban. Pergelangan kakinya juga pernah tampak bengkak.

Trump kadang kesulitan untuk tetap membuka matanya, termasuk selama pertemuan di Ruang Oval yang disiarkan televisi dengan perwakilan kesehatan pada bulan November. Isu itu sensitif secara politik bagi seseorang yang terus-menerus menggambarkan pendahulunya dari Partai Demokrat, Joe Biden, sebagai 'tukang ngantuk'.

Trump jarang berolahraga selain bermain golf di lapangan golfnya. Dia juga secara terang-terangan mengaku suka makanan cepat saji tinggi lemak dan tinggi natrium.

Politikus Republik itu menjelaskan memar di tangannya sebagai akibat dari aspirin yang dia minum setiap hari. Dia mengklaim hal itu dilakukan untuk mengencerkan darahnya.

"Saya tidak ingin darah kental mengalir melalui jantung saya," katanya kepada Journal.

Dia menggunakan riasan atau perban digunakan ketika tangannya 'terbentur'. Satu luka, katanya, disebabkan ketika Jaksa Agung AS, Pam Bondi, memukul punggung tangannya dengan cincinnya saat memberinya tos.

Trump mengatakan prosedur yang dijalaninya pada Oktober 2025 bukan MRI. Dia menyebut 'Itu kurang dari itu. Itu adalah pemindaian'.

Dokter Trump, Sean Barbabella, mengkonfirmasi kepada surat kabar tersebut bahwa pemindaian CT, prosedur yang jauh lebih singkat daripada MRI, dilakukan untuk mengetahui masalah kardiovaskular. Trump juga menolak anggapan bahwa dia tertidur di depan umum.

"Saya tidak pernah menjadi orang yang banyak tidur. Saya akan menutupnya saja. Itu sangat menenangkan bagi saya. Terkadang mereka akan memotret saya saat berkedip, berkedip, dan mereka akan menangkap momen kedipan itu dalam diri saya," ujarnya.

Halaman 2 dari 4
(haf/haf)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads