Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takacihi membubarkan parlemen pada Jumat (23/1) waktu setempat. Pemilu selanjutnya dijadwalkan akan digelar pada 8 Februari mendatang.
Takaichi, seperti dilansir AFP, Jumat (23/1/2026), mengandalkan angka jajak pendapat yang tinggi untuk kabinetnya dalam mengarahkan Partai Liberal Demokratik (LDP), yang berkuasa di Jepang, namun kini tidak populer, menuju kemenangan.
PM wanita pertama di Jepang ini telah mengumumkan niatnya membubarkan parlemen sejak Senin (19/1) waktu setempat. Dia mencari dukungan publik untuk langkah-langkah melindungi rumah tangga dari kenaikan biaya hidup dan meningkatkan pengeluaran untuk pertahanan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua parlemen Jepang pada Jumat (23/1) membacakan surat dari Takaichi, yang secara resmi membubarkan majelis rendah, dengan para anggota parlemen meneriakkan seruan tradisional "banzai".
Koalisi pemerintahan antara LDP dan Partai Inovasi Jepang (JIP) hanya memiliki mayoritas tipis di majelis rendah parlemen yang berpengaruh.
Takaichi berharap dukungan luas untuk kabinetnya akan membantunya dalam meraih mandat yang lebih kuat, meskipun LDP sendiri sedang berjuang melawan angka kepuasan publik yang rendah dan serangkaian skandal.
"Belum jelas apakah dukungan publik yang tinggi untuk kabinet Takacihi akan benar-benar mengarah pada dukungan untuk LDP," kata profesor Ilmu Politik pada Universitas Tsukuba, Hidehiro Yamamoto, saat berbicara kepada AFP.
"Yang dikhawatirkan publik adalah langkah-langkah untuk mengatasi inflasi," sebutnya.
Ketidakpuasan publik atas kenaikan harga sebagian besar berkontribusi pada kejatuhan Shigeru Ishiba, PM Jepang sebelumnya yang digantikan Takaichi pada Oktober lalu.
Meskipun Jepang telah lama dihantui oleh deflasi, baru-baru ini negara tersebut menghadapi lonjakan biaya hidup dan nilai tukar Yen yang lemah secara kronis yang membuat impor menjadi lebih mahal.
Tonton juga video "China Desak PM Jepang Tarik Pernyataan Terkait Taiwan"











































