Oreshnik Rusia Hantam Ukraina Bikin AS Murka

Oreshnik Rusia Hantam Ukraina Bikin AS Murka

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 13 Jan 2026 20:05 WIB
Oreshnik Rusia Hantam Ukraina Bikin AS Murka
Serangan Rusia di Ukraina (Foto: REUTERS/Sofiia Gatilova)
Jakarta -

Rusia menggempur Ukraina menggunakan rudal ⁠Oreshnik yang berkemampuan nuklir akhir pekan lalu. Amerika Serikat (AS) mengecam serangan Rusia itu.

Dilansir AFP, Selasa (13/1/2026), hal itu disampaikan AS dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB pada Senin (12/1) waktu setempat. Washington mengutuk serangan tersebut.

Serangan itu dilancarkan Rusia pada Jumat (9/1) waktu setempat. AS mengatakan penggunaan rudal jarak menengah oleh Rusia pada hari Jumat lalu itu, yang tidak membawa hulu ledak nuklir, merupakan eskalasi berbahaya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"(Ini) merupakan eskalasi berbahaya dan tak dapat dijelaskan dalam perang ini, bahkan ketika Amerika Serikat sedang bekerja sama secara mendesak dengan Kyiv, mitra-mitra lainnya, dan Moskow untuk mengakhiri perang melalui penyelesaian yang dinegosiasikan," kata Wakil Duta Besar AS untuk PBB, Tammy Bruce.

"Kami mengutuk serangan Rusia yang terus berlanjut dan semakin intensif terhadap fasilitas energi Ukraina dan infrastruktur sipil lainnya," imbuh Bruce.

ADVERTISEMENT

Pemerintah Rusia mengatakan rudal itu mengenai pabrik perbaikan aviasi di wilayah Lviv, Ukraina barat. Moskow menyebut rudal itu ditembakkan sebagai tanggapan atas upaya Ukraina untuk menyerang salah satu kediaman Presiden Rusia Vladimir Putin - sebuah klaim yang dibantah oleh Ukraina.

Ukraina mengkonfirmasi bahwa rudal itu ditembakkan ke wilayah Lviv, dekat perbatasan dengan Polandia, tetapi tidak mengatakan apakah pabrik tersebut terkena.

Pelaksana tugas Duta Besar Inggris, James Kariuki, menyebut serangan itu "ceroboh". Dia menambahkan bahwa "serangan itu mengancam keamanan regional dan internasional serta membawa risiko eskalasi dan kesalahan perhitungan yang signifikan."

Selain mengerahkan rudal Oreshnik pada hari Jumat lalu, Rusia juga membombardir ibu kota Ukraina, Kyiv dengan serangan-serangan udara. Rentetan serangan tersebut menewaskan sedikitnya empat orang dan menyebabkan separuh bangunan tempat tinggal di kota itu tanpa pemanas di tengah suhu musim dingin yang membekukan.

Serangan Besar-besaran Rusia di Ukraina

Serangan besar-besaran Rusia itu terjadi pada Jumat (9/1) waktu setempat. Ukraina berang atas serangan itu dan mengirimkan surat kepada Dewan Keamanan PBB, dan meresponsnya dengan pertemuan darurat pada hari Senin.

"Federasi Rusia telah mencapai tingkat kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang mengerikan dengan terornya terhadap warga sipil," kata duta besar Ukraina Andriy Melnyk dalam surat kepada Dewan Keamanan, dilansir kantor berita AFP, Sabtu (10/1).

Serangan telah menyebabkan separuh bangunan tempat tinggal di Kyiv tanpa pemanas dalam suhu di bawah nol derajat, kata Wali Kota Kyiv, Vitaliy Klitschko.

Kremlin juga mengkonfirmasi peluncuran rudal balistik Oreshnik ke Ukraina untuk kedua kalinya sejak perang dimulai pada Februari 2022.

"Rezim Federasi Rusia secara resmi mengklaim bahwa mereka menggunakan rudal balistik jarak menengah, yang disebut 'Oreshnik', terhadap wilayah Lviv," lanjut surat duta besar Ukraina tersebut.

"Serangan semacam itu merupakan ancaman serius dan belum pernah terjadi sebelumnya terhadap keamanan benua Eropa," imbuhnya.

Moskow mengklaim Oreshnik, yang dapat dilengkapi dengan hulu ledak nuklir dan konvensional, tidak mungkin dihentikan.

Lihat juga Video WHO: Ada 9 Serangan ke Faskes Ukraina di Awal 2026

Halaman 2 dari 2
(lir/lir)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads