5 Berita Terpopuler Internasional Hari Ini

5 Berita Terpopuler Internasional Hari Ini

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 13 Jan 2026 17:12 WIB
5 Berita Terpopuler Internasional Hari Ini
Aksi protes besar-besaran mengguncang Iran (Foto: via REUTERS/Stringer)
Jakarta -

Para staf Kedutaan Besar Prancis di Iran telah meninggalkan negara tersebut, saat unjuk rasa antipemerintah besar-besaran meluas dan diwarnai kerusuhan. Mereka yang telah meninggalkan Teheran, ibu kota Iran, merupakan para staf non-esensial.

Laporan media lokal Prancis yang mengutip sejumlah sumber, seperti dilansir Anadolu Agency dan AFP, Selasa (13/1/2025), menyebutkan bahwa para personel Kedutaan Besar Prancis itu telah meninggalkan wilayah Iran sejak Minggu (11/1) dan Senin (12/1) waktu setempat.

Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Selasa (13/1/2026):

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

- Trump Ejek Greenland: Cuma Dijaga 2 Kereta Luncur Anjing

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengejek pertahanan Greenland, yang disebutnya hanya dijaga oleh "dua kereta luncur anjing". Ejekan ini dilontarkan Trump saat ambisinya menguasai pulau strategis di kawasan Arktik itu, berhadapan dengan penolakan sekutu-sekutunya di Eropa.

ADVERTISEMENT

Pernyataan bernada ejekan itu, seperti dilansir AFP dan Euro News, Selasa (13/1/2026), disampaikan Trump ketika berbicara wartawan di dalam pesawat kepresidenan AS, Air Force One, pada Minggu (11/1) waktu setempat.

Saat membahas soal Greenland, Trump menegaskan bahwa AS akan mengambil alih pulau yang merupakan wilayah otonomi Kerajaan Denmark itu "dengan cara apa pun". Dia juga memperingatkan bahwa Rusia dan China akan "mengambil alih" Greenland, jika AS tidak bertindak.

- Rusia Gempur Ukraina Pakai Rudal Berkemampuan Nuklir, AS Berang!

Pemerintah Amerika Serikat mengutuk penggunaan rudal balistik berkemampuan nuklir, Oreshnik, oleh Rusia di Ukraina. Dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB pada Senin (12/1) waktu setempat, Washington menyebut serangan rudal itu sebagai "eskalasi berbahaya".

Penggunaan rudal jarak menengah oleh Rusia pada hari Jumat lalu itu, yang tidak membawa hulu ledak nuklir, "merupakan eskalasi berbahaya dan tak dapat dijelaskan dalam perang ini, bahkan ketika Amerika Serikat sedang bekerja sama secara mendesak dengan Kyiv, mitra-mitra lainnya, dan Moskow untuk mengakhiri perang melalui penyelesaian yang dinegosiasikan," kata Wakil Duta Besar AS untuk PBB, Tammy Bruce.

"Kami mengutuk serangan Rusia yang terus berlanjut dan semakin intensif terhadap fasilitas energi Ukraina dan infrastruktur sipil lainnya," imbuh Bruce, dilansir kantor berita AFP, Selasa (13/1/2026).

- Kanselir Jerman: Kita sedang Menyaksikan Hari-hari Terakhir Rezim Iran

Kanselir Jerman, Friedrich Merz, mengatakan bahwa rezim Iran sedang menjalani hari-hari terakhir, seiring meningkatnya tekanan terhadap negara Syiah tersebut atas gelombang unjuk rasa, yang dilaporkan telah menewaskan ratusan orang.

"Ketika sebuah rezim yang hanya dapat mempertahankan kekuasaan melalui kekerasan, maka rezim itu pada dasarnya telah berakhir," tegas Merz saat berbicara kepada wartawan di sela-sela kunjungannya ke Bengaluru, India, seperti dilansir AFP, Selasa (13/1/2026).

"Saya percaya bahwa kita sekarang sedang menyaksikan hari-hari terakhir dan minggu-minggu terakhir rezim ini," ujarnya.

- Memanas! AS Serukan Warganya Segera Tinggalkan Iran

Pemerintah Amerika Serikat menyerukan warganya di Iran untuk segera meninggalkan negara itu, di tengah protes antipemerintah yang sedang berlangsung. Hal ini disampaikan seiring Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan opsi-opsinya terhadap Iran.

"Tinggalkan Iran sekarang juga," kata Kedutaan Besar virtual AS untuk Iran dalam sebuah peringatan keamanan pada hari Senin (12/1), mendesak warga negara AS untuk merencanakan keberangkatan dari Iran tanpa bantuan dari pemerintah AS.

Dilansir Al Arabiya, Selasa (13/1/2026), peringatan tersebut menyinggung aksi-aksi protes di Iran yang "meningkat dan dapat berubah menjadi kekerasan, mengakibatkan penangkapan dan cedera. Peningkatan langkah-langkah keamanan, penutupan jalan, gangguan transportasi umum, dan pemblokiran internet sedang berlangsung."

- Demo Besar-besaran di Iran, Staf Kedutaan Prancis Angkat Kaki

Para staf Kedutaan Besar Prancis di Iran telah meninggalkan negara tersebut, saat unjuk rasa antipemerintah besar-besaran meluas dan diwarnai kerusuhan. Mereka yang telah meninggalkan Teheran, ibu kota Iran, merupakan para staf non-esensial.

Laporan media lokal Prancis yang mengutip sejumlah sumber, seperti dilansir Anadolu Agency dan AFP, Selasa (13/1/2025), menyebutkan bahwa para personel Kedutaan Besar Prancis itu telah meninggalkan wilayah Iran sejak Minggu (11/1) dan Senin (12/1) waktu setempat.

Namun, tidak disebutkan lebih lanjut soal berapa banyak staf non-esensial yang telah meninggalkan Teheran.

Tonton juga Video Terpopuler Sepekan: Yaqut Jadi Tersangka, Maduro Ditangkap AS

Halaman 2 dari 2
(ita/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads