AS Samarkan Pesawat Militer Jadi Pesawat Sipil Saat Serang Kapal Narkoba

AS Samarkan Pesawat Militer Jadi Pesawat Sipil Saat Serang Kapal Narkoba

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 13 Jan 2026 13:08 WIB
AS Samarkan Pesawat Militer Jadi Pesawat Sipil Saat Serang Kapal Narkoba
Momen pasukan militer AS menyerang kapal yang diduga menyelundupkan narkoba (dok. Reuters)
Washington DC -

Pentagon menyamarkan sebuah pesawat militer Amerika Serikat (AS) menjadi pesawat sipil untuk melancarkan serangan pertamanya terhadap sebuah kapal, yang diduga menyelundupkan narkoba, tahun lalu. Serangan pertama Washington tersebut menewaskan sedikitnya 11 orang pada saat itu.

Informasi ini, seperti dilansir AFP, Selasa (13/1/2026), diungkapkan oleh media terkemuka AS, New York Times (NYT), dalam laporan terbarunya pada Senin (12/1) waktu setempat.

Langkah semacam itu, menurut NYT, merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional tentang konflik bersenjata, yang melarang para kombatan untuk "berpura-pura memiliki status sipil untuk menipu musuh... sebuah kejahatan perang yang disebut sebagai 'pengkhianatan'".

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Serangan AS tersebut diumumkan oleh Presiden Donald Trump dalam unggahan media sosial pada 2 September 2025, yang menuduh targetnya sebagai anggota organisasi kriminal Tren de Aragua "yang beroperasi di bawah kendali Nicolas Maduro, bertanggung jawab atas pembunuhan massal, perdagangan narkoba, perdagangan seks, dan tindak kekerasan serta teror".

ADVERTISEMENT

Laporan NYT mengungkapkan bahwa sebuah pesawat militer AS yang digunakan dalam serangan itu telah dicat agar terlihat seperti pesawat sipil. Disebutkan juga bahwa amunisi pada pesawat militer AS itu disembunyikan di dalam badan pesawat, bukan dibawa secara terlihat jelas di bawah sayapnya.

Gedung Putih, beberapa waktu lalu, telah mengonfirmasi bahwa seorang Laksamana AS, yang bertindak di bawah wewenang Menteri Pertahanan Pete Hegseth, telah memerintahkan operasi militer "double-tap" atau "serangan ganda", yang berarti menyerang satu target sebanyak dua kali.

NYT, dalam laporannya, menyebutkan bahwa "dua orang yang selamat dari serangan awal kemudian tampak melambaikan tangan" ke arah pesawat militer AS yang "menyamar" itu, sambil berpegangan pada puing-puing kapal sebelum militer Washington membunuh mereka dalam serangan lanjutan.

Pesawat militer lainnya yang mudah dikenali, termasuk drone MQ-9 Reaper, telah digunakan dalam serangan terhadap kapal tersebut sejak serangan pertama.

Sedikitnya 107 orang tewas dalam setidaknya 30 serangan AS sejak September lalu, dengan 19 serangan terjadi di perairan Pasifik Timur, enam serangan di perairan Karibia, dan lima serangan lainnya di lokasi yang tidak diketahui.

NYT melaporkan bahwa pertanyaan tentang "pengkhianatan" telah diajukan oleh Kongres AS selama sesi tertutup dengan para pemimpin militer, tetapi belum ada diskusi publik tentang masalah yang dirahasiakan tersebut.

Simak juga Video 'Titel 'Presiden Sementara Venezuela' di Profil Wikipedia Trump':

Halaman 2 dari 2
(nvc/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads