Putra Shah terakhir Iran yang digulingkan dalam Revolusi 1979, Reza Pahlavi, meminta Presiden AS Donald Trump untuk segera turun tangan seiring aksi protes terus berlanjut di Iran.
"Bapak Presiden, ini adalah seruan mendesak dan segera untuk perhatian, dukungan, dan tindakan Anda," tulis Pahlavi di media sosial. "Mohon bersiaplah untuk turun tangan untuk membantu rakyat Iran," ujarnya dilansir kantor berita AFP, Sabtu (10/1/2026).
Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Sabtu (10/1/2026):
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Panas, Korut Tuduh Korsel Terbangkan Drone Mata-mata
Korea Utara (Korut) menuduh Korea Selatan (Korsel) menerbangkan drone mata-mata di atas wilayahnya bulan ini. Klaim ini dibantah Seoul.
Militer Korea Utara melacak sebuah drone yang "bergerak ke utara" di atas wilayah perbatasan Korea Selatan di Ganghwa pada awal Januari, sebelum menembak jatuh drone tersebut di dekat kota Kaesong, Korea Utara, kata seorang juru bicara militer Korea Utara dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita Korut, KCNA.
"Peralatan pengawasan telah dipasang pada drone tersebut dan analisis puing-puing menunjukkan bahwa drone tersebut telah menyimpan rekaman target penting Korea Utara termasuk daerah perbatasan," kata juru bicara tersebut, dilansir kantor berita AFP, Sabtu (10/1/2026).
- Meksiko Ingin Pererat Hubungan Usai Trump Ancam Serang Kartel Narkoba
Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum mengatakan bahwa pemerintahnya menginginkan koordinasi keamanan yang lebih erat dengan Amerika Serikat. Hal ini disampaikannya setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melakukan serangan darat terhadap kartel-kartel narkoba.
Dilansir kantor berita AFP, Sabtu (10/1/2026), Sheinbaum mengatakan kepada wartawan, bahwa ia meminta menteri luar negerinya untuk menghubungi Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan, jika perlu, berbicara langsung dengan Trump untuk memperkuat kerja sama dalam kerangka keamanan bilateral.
- Trump Bilang Iran dalam Masalah Besar, Ingatkan Tidak Tembak Demonstran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa "Iran berada dalam masalah besar" seiring aksi-aksi protes anti-pemerintah terjadi di negara itu selama beberapa hari berturut-turut.
"Menurut saya, rakyat sedang menguasai beberapa kota yang beberapa minggu lalu tidak pernah terpikirkan sebelumnya," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih setelah bertemu dengan para eksekutif perusahaan minyak AS, dilansir Al Arabiya, Sabtu (10/1/2026).
Trump pun mengulangi ancaman sebelumnya kepada otoritas Iran untuk tidak menembak para demonstran. Ia mengatakan AS mengamati situasi dengan sangat cermat, dan memperingatkan, "Kami akan terlibat. Kami akan menyerang mereka dengan sangat keras di titik lemah mereka," cetusnya.
- Diancam Trump, Partai Politik Greenland: Kami Tak Mau Jadi Warga AS
Partai-partai politik di Greenland menyatakan mereka tidak ingin berada di bawah kendali Washington. Hal ini disampaikan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengisyaratkan penggunaan kekuatan untuk merebut wilayah otonom Denmark yang kaya mineral tersebut.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Jumat (9/1) malam waktu setempat, setelah Trump mengancam bahwa Washington "akan melakukan sesuatu terhadap Greenland, suka atau tidak suka."
Negara-negara Eropa telah berupaya keras untuk menyusun respons terkoordinasi setelah Gedung Putih mengatakan minggu ini, bahwa Trump ingin membeli Greenland dan menolak untuk mengesampingkan tindakan militer.
- Putra Shah Iran Minta Trump Turun Tangan, Ajak Demonstran Rebut Pusat Kota
Putra Shah terakhir Iran yang digulingkan dalam Revolusi 1979, Reza Pahlavi, meminta Presiden AS Donald Trump untuk segera turun tangan seiring aksi protes terus berlanjut di Iran.
"Bapak Presiden, ini adalah seruan mendesak dan segera untuk perhatian, dukungan, dan tindakan Anda," tulis Pahlavi di media sosial. "Mohon bersiaplah untuk turun tangan untuk membantu rakyat Iran," ujarnya dilansir kantor berita AFP, Sabtu (10/1/2026).
Pahlavi, yang bermukim di wilayah Washington, tidak menyebutkan intervensi spesifik yang ia inginkan. Namun, ia menyoroti tentang pemadaman internet secara nasional dan ancaman penggunaan kekerasan terhadap para demonstran.











































