Jejak Taipan Chen Zhi Buron Scam Kripto yang Dibekuk di Kamboja

Jejak Taipan Chen Zhi Buron Scam Kripto yang Dibekuk di Kamboja

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 08 Jan 2026 20:33 WIB
Jejak Taipan Chen Zhi Buron Scam Kripto yang Dibekuk di Kamboja
Chen Zhi (Foto: CNN World/Hun Sen's official media page/Facebook)
Jakarta -

Taipan Chen Zhi yang menjadi buron kasus penipuan kripto internasional ditangkap di Kamboja. Chairman Prince Holding Group itu dituduh sebagai dalang penipuan kripto besar-besar dengan skema 'pig butchering' atau 'sembelih babi'.

Seperti dilansir AP News, Kamis (8/1/2026), Chen Zhi ditangkap Pemerintah Kamboja pada Rabu (7/1). Dia telah diekstradisi ke China.

Kementerian Dalam Negeri Kamboja mengatakan Chen Zhi dan dua warga negara China lainnya ditangkap dan diekstradisi setelah penyelidikan selama berbulan-bulan dan atas permintaan pihak berwenang China. Chen memiliki kewarganegaraan ganda dan kewarganegaraan Kamboja-nya telah dicabut pada bulan Desember.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua Prince Holding Group Kamboja itu pada Oktober 2025 lalu dituduh Departemen Keuangan AS dan Kantor Luar Negeri Inggris sebagai kepala jaringan kriminal transnasional yang menipu korban di seluruh dunia dan mengeksploitasi pekerja yang diperdagangkan.

ADVERTISEMENT

Pusat-pusat penipuan telah berkembang di seluruh Asia Tenggara, merampas uang dari para korban dengan membujuk mereka untuk bergabung dalam skema investasi palsu. Menurut perkiraan dari Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan, korban penipuan di seluruh dunia kehilangan antara $18 miliar dan $37 miliar pada tahun 2023.

Dilansir BBC, Departemen Kehakiman AS sebelumnya mendakwa Chen atas tuduhan menjalankan jaringan penipuan di Kamboja, yang mencuri miliaran mata uang kripto dari para korban di seluruh dunia.

Departemen Keuangan AS menyita bitcoin senilai US$14 miliar (atau setara Rp 232 triliun) yang disebut terkait dengannya. Depkeu AS menyebut ini adalah penyitaan mata uang kripto terbesar yang pernah ada.

Perusahaan miliknya, Cambodian Prince Group, menggambarkan Chen di situs sebagai "seorang pengusaha yang dihormati dan filantropis terkenal".

Visi dan kepemimpinan Chen telah mengubah Prince Group menjadi grup bisnis terkemuka di Kamboja yang mematuhi standar internasional.

Otak Kasus Penipuan Kripto Skema 'Sembelih Babi'

Nama Taipan Chen Zhi menjadi sorotan setelah otoritas AS mendakwanya terlibat dalam organisasi kriminal transnasional terbesar di Asia. Chen sebagai dalang penipuan kripto besar-besar dengan skema 'pig butchering' atau 'sembelih babi'.

Dilansir CNN, Minggu (26/10/2025), Chen sebelumnya dikenal sebagai Vincent dan lahir di Fujian, China pada 16 Desember 1987. Otoritas AS menyebutkan bahwa bisnis awalnya Chen berupa warnet dan pusat gim di Fuzhou, ibu kota Fujian.

Pada 2011, dia terjun ke bisnis investasi real estat di Kamboja menurut profil di lama DW Capital holdings, sebuah perusahaan manajemen dana di Singapura yang mencantumkan Chen sebagai pendiri dan ketua, serta termasuk dalam daftar sanksi AS.

Pada dekade 2010-an, disebutkan bahwa banyak pengembang dari China yang mulai membangun kasino di Sihanoukville, Kamboja bagian barat. Kota pantai yang tenang itu berubah menjadi pusat judi dengan regulasi longgar dan kemudahan izin kasino.

Dengan masuknya kasino dan judi daring, masuk pula kejahatan terorganisir, pencucian uang, prostitusi, peredaran narkoba dan penipuan online. Kota tersebut digambarkan sebagai 'wild west' dengan keterhubungan erat antara bisnis dan kriminal.

Tak lama setelah kedatangannya, Chen menjadi warga negara Kamboja melalui naturalisasi. Analis mengatakan bahwa dia mendapatkan gelar kehormatan dan pengaruh kuat di kalangan elite Kamboja.

Dia diangkat setelah sebagai penasihat senior pemerintah setinggi menteri, penasihat pribadi Perdana Menteri Hun Sen dan putranya Hun Manet, serta dianugerahi 'neak oknha', gelar bagi pengusaha terkemuka.

Berdasarkan dakwaan AS, Chen pernah berkunjung ke AS pada April 2023 menggunakan paspor diplomatik, yang diduga diperolehnya setelah memberikan jam tangan mewah kepada pejabat senior pemerintahan.

Dalam dakwaan AS, ada sejumlah tindak kejahatan yang terungkap. Chen dituduh merestui kekerasan terhadap para pekerja, menyuap pejabat asing, serta memanfaatkan bisnis lain seperti judi daring dan penambangan kripto untuk mencuci hasil perolehan ilegal.

Selain itu, Chen disebut sebagai 'dalang di balik imperium penipuan siber yang luas'. Bahkan Jaksa AS Joseph Nocella menyebutnya sebagai salah satu operasi penipuan investasi terbesar dalam sejarah.

Jaksa mengungkap modus penipuan 'pig butchering' atau 'sembelih babi' yang dijalankan Chen mampu meraup 30 juta dolar AS setiap hari.

Pada tahun 2024, warga Amerika disebut kehilangan sedikitnya 10 miliar dolar AS terkait skema penipuan berbasis Asia Tenggara atau meningkat 66 persen dibandingkan dari 2023. Menurut Departemen Keuangan AS, Chen merupakan pemain dominan dalam bisnis gelap tersebut.

Di sisi lain, otoritas China juga sudah menyelidiki perusahaan itu atas dugaan penipuan siber dan pencucian uang sejak 2020.

Simak juga Video Menlu Beberkan Alasan WNI Korban Scam Kamboja Ogah Pulang

Halaman 2 dari 2
(lir/fas)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads