Otoritas Venezuela menangkap dua petani, yang bersaudara dan berusia 60-an tahun, karena kedapatan merayakan penggulingan Presiden Nicolas Maduro oleh penyerbuan militer Amerika Serikat (AS) pada akhir pekan lalu. Kedua petani itu melakukan perayaan dalam keadaan mabuk dan melepaskan tembakan ke udara.
Penangkapan kedua petani Venezuela itu, seperti dilansir AFP, Kamis (8/1/2026), diungkapkan oleh seorang pengacara bernama Gonzalo Himiob dari kelompok hak asasi manusia (HAM) setempat, Foro Penal, yang biasa membela tahanan politik di negara tersebut.
Kedua petani yang ditangkap itu berasal dari Rio Negro, yang ada di negara bagian Merida, Venezuela bagian barat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dituturkan Himiob kepada AFP bahwa keduanya melakukan perayaan dengan melepaskan "beberapa tembakan ke udara" dan mengejek tetangga-tetangga mereka yang merupakan loyalis pemerintahan Maduro, yang kemudian melaporkan mereka ke otoritas berwenang.
Himiob menggambarkan kedua petani yang berusia 64 tahun dan 65 tahun itu sebagai "petani sederhana".
"Mereka mabuk dan keluar dari rumah mereka untuk merayakan penangkapan Maduro," ucapnya.
"Mereka melepaskan beberapa tembakan ke udara dengan senjata api yang biasa disimpan di lahan pertanian dan properti pedesaan, mengejek tetangga-tetangga mereka yang merupakan pendukung pemerintah," sebut Himiob dalam pernyataannya.
Penangkapan dua petani itu dilakukan di bawah keadaan darurat yang sedang berlangsung di Venezuela, yang memberlakukan hukuman bagi siapa pun yang mendukung operasi militer AS untuk menggulingkan dan menangkap Maduro pada 3 Januari lalu.
"Kami menunggu untuk melihat apakah mereka akan dibawa ke pengadilan," kata Himiob dalam pernyataannya.
Penangkapan kedua petani itu menjadi yang pertama di bawah pemerintahan Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, yang telah dijanjikan oleh Presiden AS Donald Trump untuk bekerja sama selama dia mematuhi tuntutan Washington.
Sejak Maduro ditangkap dan diterbangkan ke New York, AS, untuk diadili atas tuduhan narkoterorisme, telah terjadi unjuk rasa hampir setiap hari untuk mendukungnya di Venezuela. Namun sejauh ini tidak ada aksi yang digelar kubu oposisi, yang diabaikan dengan adanya kesepakatan antara Trump dan Rodriguez.
Meskipun banyak orang di Venezuela yang senang Maduro telah pergi, mereka takut untuk mengekspresikan diri sejak ribuan orang ditangkap dalam unjuk rasa yang digelar kubu oposisi pada tahun 2024 lalu, setelah pemimpin otoriter itu mengklaim kemenangan dalam pemilu yang seharusnya dimenangkan oposisi.
Simak juga Video Trump: Banyak Warga Kuba Tewas Saat Lindungi Nicolas Maduro











































