Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersikeras ingin mengendalikan Venezuela. Hal ini ia utarakan usai AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam gempuran mematikan pada Sabtu (3/1) waktu setempat.
Dengan langkahnya menggempur Venezuela dan menangkap Maduro menuai kritikan, seperti dilansir AFP, Senin (5/1/2026), Trump kini menghadapi pertanyaan-pertanyaan mendalam atas pernyataannya yang berulang kali menegaskan bahwa AS sekarang menguasai Venezuela.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernyataan itu disampaikan Trump setelah operasi militer AS yang berujung penangkapan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, di ibu kota Cacaras pada Sabtu (3/1) dini hari. Maduro dijadwalkan hadir dalam persidangan di New York pada Senin (5/1) waktu setempat untuk menghadapi dakwaan perdagangan narkoba federal.
Pemimpin sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, pada saat yang sama mengatakan dirinya siap bekerja sama dengan pemerintahan Trump. Dia juga meminta AS untuk menjalin hubungan yang seimbang dan saling menghormati.
"Kita berurusan dengan orang-orang yang baru saja dilantik. Jangan tanya saya siapa yang bertanggung jawab karena saya akan memberikan Anda jawabannya dan itu akan sangat kontroversial," kata Trump saat berbicara kepada wartawan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One pada Minggu (4/1).
Trump ditanya oleh wartawan soal apakah dirinya telah berbicara dengan Rodriguez. Trump sebelumnya mengancam bahwa Rodriguez, yang kini menjadi pemimpin sementara Venezuela, akan membayar "harga yang mahal" jika dia tidak bekerja sama dengan AS.
Saat ditanya lebih lanjut soal maksud pernyataannya, Trump berkata: "Itu berarti kita yang bertanggung jawab."
Gambar yang diunggah di akun Truth Social milik Presiden AS Donald Trump pada 3 Januari 2026, menunjukkan apa yang menurut Presiden Trump adalah Presiden Venezuela Nicolas Maduro di atas kapal USS Iwo Jima setelah militer AS menangkapnya pada 3 Januari 2026. Foto: (AFP/HANDOUT) |
Pemerintahan Trump menyatakan kesediaan untuk bekerja sama dengan sisa pemerintahan Maduro, selama tujuan-tujuan Washington, khususnya membuka akses investasi AS ke cadangan minyak mentah Venezuela yang sangat besar, terpenuhi.
Ketika ditanya kembali oleh wartawan soal apakah operasi militer AS di Venezuela berkaitan dengan minyak atau perubahan rezim, Trump menjawab: "Ini tentang perdamaian di Bumi."
Lebih lanjut, Trump mengatakan bahwa pemilu di Venezuela harus menunggu.
"Kita akan mengendalikannya, memperbaikinya, kita akan menggelar pemilu pada waktu yang tepat, tetapi hal utama yang harus diperbaiki adalah itu merupakan negara yang hancur," cetusnya.
Ancaman Trump
Trump mengancam akan ada serangan kedua ke Venezuela. Hal itu terjadi jika Venezuela "jika mereka tidak berperilaku baik".
"Kita siap melakukan serangan kedua," kata Trump kepada wartawan.
Ketika seorang wartawan bertanya apakah operasi militer lainnya terhadap Venezuela kini telah dikesampingkan, Trump menimpali: "Tidak, tidak demikian. Jika mereka tidak berperilaku baik, kita akan melancarkan serangan kedua."
Maduro saat ini berada di pusat penahanan di New York, AS, menunggu persidangan pada Senin (5/1) waktu setempat atas tuduhan perdagangan narkoba yang menjerat dirinya.
Penangkapan Maduro memicu ketidakpastian mendalam tentang apa yang akan terjadi selanjutnya bagi negara Amerika Selatan yang kaya minyak tersebut.
Simak juga Video: Trump Sebut AS Akan Ambil Alih Minyak Venezuela












































