Rentetan Ledakan Terdengar di Ibu Kota Venezuela

Rentetan Ledakan Terdengar di Ibu Kota Venezuela

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 03 Jan 2026 14:30 WIB
Rentetan Ledakan Terdengar di Ibu Kota Venezuela
Pesawat-pesawat militer AS diparkir di bekas pangkalan udara Roosevelt Roads di Ceiba, Puerto Rico saat ketegangan dengan Venezuela memuncak (dok. Reuters)
Caracas -

Rentetan suara ledakan keras terdengar di wilayah Caracas, ibu kota Venezuela, pada Sabtu (3/1) dini hari waktu setempat. Rentetan ledakan itu disertai suara-suara yang menyerupai pesawat terbang yang sedang melintas di udara.

Laporan jurnalis AFP yang ada di ibu kota Venezuela, seperti dilansir AFP, Sabtu (3/1/2026), menyebut rentetan suara ledakan masih terdengar sekitar pukul 02.15 dini hari waktu setempat, meskipun lokasi atau sumber suara itu tidak diketahui secara jelas.

Pemerintah Venezuela belum memberikan keterangan resmi terkait suara ledakan tersebut.

Laporan Al Arabiya menyebut sedikitnya tujuh ledakan terdengar di area Caracas pada Sabtu (3/1) dini hari.

Orang-orang di berbagai area bergegas ke jalanan, dengan beberapa terlihat dari kejauhan dari berbagai wilayah Caracas. Setidaknya satu kepulan asap terlihat di udara saat area di sebelah selatan Caracas, yang terletak dekat pangkalan militer utama, mengalami pemadaman listrik.

Rentetan suara ledakan itu terjadi saat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang telah mengerahkan pasukan Angkatan Laut AS ke kawasan Karibia, membahas soal kemungkinan serangan darat terhadap Venezuela.

Pada Senin (29/12) waktu setempat, Trump mengatakan bahwa AS telah menyerang dan menghancurkan area dermaga yang diduga menjadi tempat berlabuhnya kapal-kapal penyelundup narkoba asal Venezuela.

Trump pada saat itu tidak menyebutkan apakah serangan itu merupakan operasi militer AS atau operasi badan intelijen pusat AS, CIA. Dia hanya menyatakan bahwa serangan terjadi di "sepanjang pantai". Serangan tersebut berpotensi menjadi serangan darat pertama AS yang diketahui di wilayah Venezuela.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro belum mengonfirmasi atau membantah serangan pada Senin (29/12) waktu setempat. Namun pada Kamis (1/1), Maduro mengatakan bahwa dirinya terbuka untuk bekerja sama dengan AS setelah berminggu-minggu menghadapi tekanan militer.

Pemerintahan Trump menuduh Maduro memimpin kartel narkoba dan mengklaim sedang menindak tegas perdagangan narkoba di kawasan Karibia.

Maduro membantah keras keterlibatan dengan kartel narkoba, dan balik menuduh AS berupaya menggulingkan dirinya demi menguasai cadangan minyak di Venezuela, yang merupakan yang terbesar yang diketahui di dunia.

Washington meningkatkan tekanan terhadap Caracas dengan secara tidak resmi menutup wilayah udara Venezuela, memberlakukan lebih banyak sanksi, dan memerintahkan penyitaan kapal tanker yang memuat minyak Venezuela.

Selama berminggu-minggu, Trump mengancam akan melancarkan serangan darat terhadap kartel narkoba di kawasan tersebut. Dia mengatakan serangan akan dimulai "segera", dan serangan pada Senin (29/12) menjadi contoh pertama yang terlihat.

Pasukan AS juga melancarkan puluhan serangan terhadap kapal-kapal yang diduga menyelundupkan narkoba di Laut Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur sejak September lalu. Namun pemerintahan Trump tidak memberikan bukti untuk menunjukkan kapal-kapal itu terlibat dalam perdagangan narkoba, yang memicu perdebatan soal legalitas operasi tersebut.

Menurut informasi yang dirilis militer AS sejauh ini, operasi maritim yang mematikan ini telah menewaskan sedikitnya 107 orang dalam setidaknya 30 serangan.

Tonton juga video "Ledakan Terjadi di Masjid Ibu Kota Nigeria, 7 Orang Tewas"

Halaman 2 dari 2
(nvc/nvc)


Berita Terkait