Langkah Israel atas wilayah Somaliland menuai kecaman dari sejumlah pihak. Beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia menolak atas kedaulatan Somaliland, wilayah separatis Republik Federal Somalia.
Israel sebelumnya secara resmi mengakui Somaliland sebagai negara merdeka dan berdaulat serta menandatangani perjanjian untuk menjalin hubungan diplomatik. Pengakuan ini disambut oleh Somaliland sebagai pengakuan resmi pertama dalam sejarahnya.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan pengakuan resmi tersebut. Pengumuman itu menjadikan Israel sebagai negara pertama yang melakukan pengakuan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Israel kini menjadi negara pertama yang mengakui Republik Somaliland sebagai negara merdeka dan berdaulat," kata kantor PM Israel dilansir kantor berita AFP.
Baca juga: AS Ogah Ikuti Israel Akui Somaliland |
Israel menjadi negara anggota PBB pertama yang secara resmi mengakui Somaliland sebagai negara merdeka dan berdaulat pada hari Jumat. Hal ini menuai kecaman dari Turki, sekutu dekat Somalia, dan negara-negara di Afrika dan Timur Tengah.
Somaliland memproklamasikan kemerdekaan dari Somalia pada 1991 dan sejak itu mendorong pengakuan internasional. Presiden Somaliland Abdirahman Mohamed Abdullahi menjadikan pengakuan internasional sebagai prioritas sejak menjabat tahun lalu.
Presiden Somalia Terheran-heran
Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud mengatakan pengakuan Israel atas negara Somaliland adalah hal yang tidak terduga dan aneh. Mohamud menilai pengakuan Israel terhadap Somaliland berpotensi memiliki implikasi buruk bagi warga Palestina di Gaza dan Tanduk Afrika (Horn of Africa).
"Somaliland telah mengklaim isu pemisahan diri untuk waktu yang lama, selama tiga dekade terakhir, dan tidak satu pun negara di dunia yang mengakuinya," kata Mohamud kepada Al Jazeera dalam sebuah wawancara eksklusif dari Istanbul, Turki, seperti dilansir Al Jazeera, Kamis (1/1/2026).
(FILES) Somalia's President Hassan Sheikh Mohamud (Photo by Odd ANDERSEN / AFP) |
Somaliland adalah wilayah separatis Republik Federal Somalia. Mohamud menyindir Israel yang suka ikut campur.
"Bagi kami, kami telah mencoba untuk menyatukan kembali negara ini dengan cara damai. Jadi setelah 34 tahun, sangat tidak terduga dan aneh bahwa Israel, tiba-tiba saja, ikut campur dan mengatakan, 'Kami mengakui Somaliland'," katanya.
"(Pengakuan itu) bukan hanya isyarat diplomatik tetapi kedok untuk tujuan strategis Israel yang spesifik dan berisiko tinggi," ucap Mohamud.
Pemimpin Somalia itu menilai Israel akan menggunakan cara memaksa pengungsi Palestina ke Somalia. Dia menilai langkah-langkah Israel itu akan membuka kotak kejahatan di dunia dan Israel berupaya mengekspor masalahnya di Gaza ke Tanduk Afrika.
"Israel tidak memiliki niat damai untuk datang ke Somalia. Ini adalah langkah yang sangat berbahaya, dan seluruh dunia, terutama Arab dan Muslim, harus melihatnya sebagai ancaman serius," kata Mohamud.
Mohamud mengatakan, menurut intelijen Somalia, Somaliland telah menerima tiga syarat Israel sebagai imbalan atas pengakuan Israel. Pertama pemukiman kembali warga Palestina, pendirian pangkalan militer Israel di pantai Teluk Aden, dan bergabungnya Somaliland ke dalam Perjanjian Abraham.
Perjanjian tersebut merupakan serangkaian pakta yang menetapkan normalisasi hubungan antara Israel dan beberapa negara Arab, yang mana, UEA, Bahrain, Maroko, dan Sudan telah menandatanganinya.
Mohamud mengatakan Somalia memiliki intelijen yang menunjukkan bahwa sudah ada kehadiran Israel di Somaliland. Dia menyebut pengakuan Israel terhadap wilayah tersebut hanyalah normalisasi dari apa yang sudah terjadi secara diam-diam.
Pemimpin Somalia itu berada di Turki pada hari Selasa (30/12/2025) lalu. Dalam kesempatan itu, dia memberikan konferensi pers bersama dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Kedua pemimpin tersebut memperingatkan bahwa pengakuan Israel terhadap wilayah yang memisahkan diri itu dapat men-destabilisasi Tanduk Afrika.
Langkah Israel tersebut kemudian dikutuk oleh berbagai negara, termasuk oleh sebagian besar anggota Dewan Keamanan PBB pada pertemuan darurat yang diadakan di New York pada hari Senin awal pekan lalu. Indonesia juga menolak pengakuan Israel itu.
Amerika Serikat adalah satu-satunya anggota dari 15 kursi yang membela langkah Israel, meskipun mereka menekankan bahwa posisi AS mengenai Somaliland tetap tidak berubah.
Indonesia Tolak Kedaulatan Somaliland
Pemerintah Indonesia menolak keras pengakuan Israel atas kedaulatan Somaliland, wilayah separatis Republik Federal Somalia. Indonesia memandang pengakuan ini sebagai ancaman serius bagi keamanan kawasan Tanduk Afrika (Horn of Africa) dan Laut Merah.
Dilansir Antara, Kamis (1/1/2026), penolakan ini disepakati dalam pernyataan bersama antara menteri luar negeri antarkawasan yang meliputi Indonesia dan 21 negara lain beserta Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC). Pernyataan ini disepakati pada 26 Desember 2025.
"(Pengakuan kedaulatan Somaliland) memberi dampak serius bagi perdamaian dan keamanan internasional serta menunjukkan pelanggaran besar Israel terhadap hukum internasional," demikian bunyi pernyataan bersama sebagaimana disampaikan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI di media sosialnya, Rabu malam (31/12).
Indonesia sepakat bahwa pengakuan Israel atas Somalia, yang merupakan wilayah integral Republik Federal Somalia, sebagai pelanggaran berat terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengakui kepentingan melindungi kedaulatan dan keutuhan wilayah negara.
Pernyataan bersama tersebut menyebutkan bahwa dengan mengakui Somaliland, Israel dipandang sedang menunjukkan sikap 'ekspansionisme'.
Lebih lanjut, Indonesia bersama negara-negara peserta pernyataan bersama menegaskan kembali dukungan terhadap kedaulatan Republik Federal Somalia dan menolak segala upaya untuk merongrong persatuan dan keutuhan wilayah negara tersebut.
"Pengakuan sebagian wilayah (sebagai negara berdaulat) menjadi preseden yang serius dan mengancam perdamaian dan keamanan internasional, serta melanggar dasar-dasar hukum internasional berdasarkan Piagam PBB," kata pernyataan bersama tersebut.
Indonesia, dalam pernyataan bersama tersebut, juga menentang keras upaya menjadikan pengakuan Somaliland sebagai langkah untuk melancarkan upaya 'pengusiran secara paksa warga Palestina dari wilayahnya'.
Kecaman Warga Somalia
Ratusan orang berkumpul di Mogadishu, ibu kota Somalia, kemarin untuk memprotes keputusan Israel yang mengakui Somaliland. Somaliland yang terletak di Somalia Utara itu mendeklarasikan kemerdekaan pada tahun 1991.
Dilansir Anadolu, Senin (29/12/2025), para demonstran memulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Somalia, pada Minggu (28/12) kemarin. Mereka mengutuk langkah Israel dan menekankan kedaulatan dan integritas teritorial Somalia.
Mereka meneriakkan slogan-slogan seperti "Somalia tidak dapat dipisahkan" dan "Somaliland adalah Somalia." Pasukan keamanan dikerahkan dalam jumlah besar untuk menjaga ketertiban.
Mohamed Abor, salah satu demonstran, mengatakan kepada Anadolu bahwa Somalia tidak pernah melepaskan wilayahnya dan tidak akan melakukannya sekarang.
Mereka menekankan bahwa tidak ada tanah Somalia yang dapat diberikan kepada Israel atau negara lain mana pun.
"Somalia adalah satu dan akan tetap satu," kata Abor.
Demonstran lain, Abdi Ismail, mengatakan keputusan Israel tidak dapat diterima oleh rakyat Somalia. Ia menyebut keputusan itu sebagai "serangan nyata terhadap kedaulatan Somalia".
Abdi mengatakan bahwa Somaliland adalah bagian yang tak terpisahkan dari negara tersebut. "Tidak ada negara yang berhak mengakui Somaliland secara sepihak," katanya.
Abdi menambahkan bahwa komunitas internasional tidak boleh tinggal diam menghadapi keputusan tersebut.
Lihat juga Video 'Hamas Konfirmasi Kematian Abu Ubaida dan Mohammed Sinwar Dibunuh Israel':












































