Arab Saudi memberi peringatan ke Uni Emirat Arab (UEA) terkait situasi di Yaman. Sebenarnya, apa yang terjadi antara dua negara itu?
Dilansir AFP dan Al Arabiya, Rabu (31/12/2025), koalisi yang dipimpin Arab Saudi membombardir kota pelabuhan Mukalla di Yaman. Pasukan koalisi Saudi melakukan serangan setelah dua kapal yang diduga membawa muatan senjata tiba dari Pelabuhan Fujairah, UEA.
Saudi mengatakan serangannya menargetkan sejumlah besar senjata dan kendaraan tempur yang diturunkan dari kapal-kapal itu. Juru bicara Pasukan Koalisi pimpinan Saudi, Brigjen Turki al-Maliki, mengatakan bahwa para awak kedua kapal itu kedapatan menonaktifkan sistem pelacakan dan menurunkan muatan senjata dan kendaraan tempur di pelabuhan Mukalla.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Persenjataan dan kendaraan tempur itu diduga dikirim untuk mendukung para petempur dari kelompok separatis, Dewan Transisi Selatan (STC). Kelompok itu berada di area Hadramaut dan al-Mahrah di Yaman yang dilanda konflik berkepanjangan.
"Awak kedua kapal itu menonaktifkan sistem pelacakan mereka dan menurunkan sejumlah besar senjata dan kendaraan tempur untuk mendukung pasukan Dewan Transisi Selatan (STC)," demikian dilaporkan kantor berita Saudi Press Agency (SPA).
"Mengingat bahaya dan eskalasi yang ditimbulkan oleh senjata-senjata ini... Angkatan Udara koalisi melancarkan operasi militer terbatas pagi ini yang menargetkan persenjataan dan kendaraan tempur yang telah diturunkan dari kedua kapal di pelabuhan al-Mukalla," sebut laporan SPA tersebut.
Dalam beberapa pekan terakhir, STC yang didukung UEA dan berupaya menghidupkan kembali negara Yaman Selatan yang sebelumnya merdeka. Mereka juga menyapu sebagian besar wilayah negara tersebut, mengusir pasukan pemerintah dan sekutu-sekutunya.
Pasukan koalisi pimpinan Saudi telah memperingatkan pihaknya akan mendukung pemerintah Yaman dalam konfrontasi militer apa pun dengan pasukan separatis. Saudi telah mendesak mereka untuk mundur 'secara damai' dari provinsi-provinsi yang baru saja direbut.
Sebuah video yang dirilis, menurut koalisi pimpinan Saudi, menunjukkan pengiriman senjata dilakukan setelah kedua kapal dari UEA itu berlabuh di Yaman.
"Ini merupakan pelanggaran nyata terhadap langkah-langkah deeskalasi dan upaya untuk mencapai solusi damai, serta pelanggaran terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) No. 2216 tahun 2015," kata Al-Maliki dalam pernyataannya.
Al-Maliki mengatakan serangan itu dilakukan berdasarkan permintaan Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman kepada pasukan koalisi pimpinan Saudi untuk mengambil tindakan militer guna melindungi warga sipil di Hadramout dan al-Mahrah. Dia mengatakan bombardir itu dilancarkan setelah transfer senjata didokumentasikan dan dilakukan sesuai dengan hukum kemanusiaan internasonal.
Perkembangan situasi terbaru di Yaman ini memberikan tekanan pada hubungan antara Saudi dan UEA, yang mendukung kelompok-kelompok yang bersaing dalam pemerintahan Yaman. Laporan SPA menyebut operasi militer itu tidak memicu kerusakan tambahan dan korban jiwa di Yaman.
Arab Saudi juga secara langsung mengaitkan kemajuan STC di Yaman dengan dukungan UEA. Dalam pernyataan keras, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyebut langkah UEA sebagai ancaman serius.
"Kerajaan mencatat bahwa langkah-langkah yang diambil oleh negara saudara Uni Emirat Arab adalah sangat berbahaya," demikian pernyataan resmi tersebut.
Serangan ini menandai ketegangan antara Riyadh dan Abu Dhabi, dua sekutu lama yang selama bertahun-tahun tergabung dalam koalisi melawan pemberontak Houthi yang didukung Iran. Kedua negara ini belakangan bersaing dalam pengaruh politik dan ekonomi di kawasan Timur Tengah dan Laut Merah, meskipun tetap memiliki hubungan erat dan sama-sama anggota OPEC.
Dewan Kepresidenan Yaman yang didukung Arab Saudi mengumumkan keadaan darurat nasional. Dewan tersebut secara resmi mengakhiri kerja sama keamanan dengan Abu Dhabi dan memerintahkan seluruh pasukan UEA untuk meninggalkan wilayah Yaman dalam waktu 24 jam.
Selain itu, ada larangan selama 72 jam terhadap seluruh penyeberangan perbatasan, serta akses ke bandara dan pelabuhan laut di wilayah yang mereka kuasai, kecuali yang mendapat izin langsung dari Arab Saudi. Langkah-langkah ini menandai putusnya hubungan keamanan antara pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dengan Abu Dhabi, sekaligus memperdalam perpecahan di antara kekuatan anti-Houthi.
Respons UEA
Uni Emirat Arab (UEA) mengatakan mereka akan menarik pasukan yang tersisa dari Yaman. Penarikan pasukan ini menyusul tuntutan Arab Saudi.
Dilansir AFP, Kementerian pertahanan Uni Emirat Arab mengatakan pihaknya menarik "tim anti-terorisme atas kemauan sendiri". UEA membantah berada di balik serangan separatis tersebut.
Pihak Abu Dhabi juga mengatakan pengiriman yang ditujukan ke Mukalla hanya berisi kendaraan yang ditujukan untuk pasukannya sendiri. UEA mengecam tuduhan Saudi dan menegaskan apa yang dituduhkan Saudi itu tidak benar.
"UEA mengutuk klaim yang dibuat mengenai pemberian tekanan atau arahan kepada pihak Yaman mana pun untuk melakukan operasi militer," demikian pernyataan tersebut.
Pernyataan itu menambahkan: "Pengiriman yang dimaksud tidak berisi senjata apa pun, dan kendaraan yang dibongkar tidak ditujukan untuk pihak Yaman mana pun."
Baik UEA maupun Arab Saudi menyatakan kesediaan untuk terlibat dalam dialog.
"Diplomasi masih menjadi pilihan untuk menghentikan eskalasi lebih lanjut," kata seorang sumber yang dekat dengan koalisi militer Saudi kepada AFP.
Meski demikian, STC tetap menentang dan bersikeras bahwa "tidak ada pemikiran untuk mundur" dari posisi yang baru saja mereka rebut.
"Tidak masuk akal jika pemilik tanah diminta untuk meninggalkan tanahnya sendiri. Situasi ini mengharuskan untuk tetap tinggal dan memperkuat pertahanan.
Lihat juga Video 'Trump Ungkap akan Bantu Selesaikan Masalah Perang di Sudan':











































