Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengatakan "tidak mungkin" pasukan Amerika Serikat (AS) bisa menginvasi negaranya. Hal itu disampaikan setelah Washington mengerahkan lima kapal perang dan mengirimkan 4.000 tentaranya di kawasan Karibia untuk memberikan tekanan terhadap Maduro.
AS mengatakan bahwa pengerahan pasukan ke kawasan Karibia selatan, dekat perairan teritorial Venezuela, merupakan operasi anti-perdagangan narkoba.
Venezuela merespons dengan mengirimkan sejumlah kapal perang dan drone untuk berpatroli di garis pantai wilayahnya, dan meluncurkan upaya untuk merekrut ribuan anggota milisi guna memperkuat pertahanannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak mungkin mereka dapat memasuki Venezuela," kata Maduro dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, Jumat (29/8/2025).
Dia bersumpah bahwa Venezuela telah bersiap untuk mempertahankan "perdamaian, kedaulatan, dan integritas teritorialnya".
Namun demikian, AS sejauh ini belum secara terbuka melontarkan ancaman akan menginvasi Venezuela.
Maduro yang mengklaim masa jabatan ketiga yang disengketakan dalam pemilu pada Juli 2024, telah menjadi incaran Presiden AS Donald Trump yang kembali menjabat untuk periode kedua pada Januari tahun ini.
Sejak kembali ke Gedung Putih, serangan Trump terhadap Venezuela berfokus pada geng-geng berpengaruh di negara tersebut, beberapa di antaranya beroperasi di dalam wilayah AS.
Washington menuduh Maduro memimpin kartel perdagangan kokain bernama "Cartel de los Soles", yang telah ditetapkan oleh pemerintahan Trump sebagai organisasi teroris.
Baru baru ini, AS menggandakan tawaran imbalan untuk penangkapan Maduro menjadi US$ 50 juta, atau setara Rp 823,8 miliar, terkait kasus perdagangan narkoba di wilayah AS.
Maduro, yang menggantikan tokoh sosialis Hugo Chavez sejak tahun 2013, menuduh Trump berupaya melakukan perubahan rezim di Venezuela.
Lihat juga Video 'Penembakan Massal Terjadi di Sekolah Katolik AS, 2 Anak Tewas-17 Terluka':