Peraih Nobel Muhammad Yunus Dihukum dalam Kasus Perburuhan Bangladesh

Peraih Nobel Muhammad Yunus Dihukum dalam Kasus Perburuhan Bangladesh

Haris Fadhil - detikNews
Senin, 01 Jan 2024 18:41 WIB
Bangladeshi Nobel peace laureate Muhammad Yunus (C) leaves a court in Dhaka on January 1, 2024. Nobel peace laureate Muhammad Yunus was convicted on January 1, of violating Bangladeshs labour laws in a case decried by his supporters as politically motivated. (Photo by Munir UZ ZAMAN / AFP)
Foto: Muhammad Yunus (tengah)-(AFP/MUNIR UZ ZAMAN)
Dhaka -

Peraih Nobel, Muhammad Yunus, dihukum karena melanggar Undang-Undang Ketenagakerjaan Bangladesh. Para pendukung Yunus mengecam kasus ini dan menyebut proses hukum terhadap Yunus bermotif politik.

"Profesor Yunus dan tiga rekannya di Grameen Telecom dinyatakan bersalah berdasarkan Undang-Undang Ketenagakerjaan dan dijatuhi hukuman enam bulan penjara sederhana," kata pemimpin jaksa Khurshid Alam Khan seperti dilansir AFP, Senin (1/1/2024).

Dia menambahkan keempatnya segera diberikan jaminan sambil menunggu banding. Yunus (83) dipuji karena dianggap berhasil mengentaskan jutaan orang dari kemiskinan melalui bank keuangan mikro.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, dia mendapat permusuhan dari Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina. Yunus dituduh 'mengisap darah' orang miskin oleh Hasina.

Hasina telah melancarkan beberapa serangan verbal pedas terhadap pemenang Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2006 itu. Yunus dan tiga rekannya dari Grameen Telecom, salah satu perusahaan yang dia dirikan, dituduh melanggar Undang-Undang Ketenagakerjaan ketika mereka gagal menciptakan dana kesejahteraan pekerja di perusahaan tersebut. Keempatnya menyangkal tuduhan tersebut.

ADVERTISEMENT

"Putusan ini belum pernah terjadi sebelumnya," kata Pengacara Yunus, Abdullah Al Mamun.

"Kami tidak mendapatkan keadilan," sambungnya.

Yunus menghadapi lebih dari 100 dakwaan lain atas pelanggaran hukum ketenagakerjaan dan dugaan korupsi. Dia mengatakan kepada wartawan setelah salah satu dengar pendapat bulan lalu bahwa dia tidak mengambil keuntungan dari lebih dari 50 perusahaan bisnis sosial yang dia dirikan di Bangladesh.

"Itu bukan untuk kepentingan saya pribadi," kata Yunus.

Pengacaranya yang lain, Khaja Tanvir, mengatakan kasus tersebut 'tidak berdasar dan palsu'.

"Satu-satunya tujuan dari kasus ini adalah untuk melecehkan dan mempermalukannya di depan dunia," katanya.

Lihat juga Video 'Oposisi Bangladesh Bentrok dengan Polisi saat Gelar Demo':

[Gambas:Video 20detik]



(haf/imk)
Hoegeng Awards 2025
Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini
Selengkapnya



Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Ajang penghargaan persembahan detikcom bersama Polri kepada sosok polisi teladan. Baca beragam kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini.
Hide Ads