Akhirnya, China Longgarkan Pembatasan COVID Usai Demo Massal

ADVERTISEMENT

Akhirnya, China Longgarkan Pembatasan COVID Usai Demo Massal

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 07 Des 2022 14:46 WIB
Police officers stand guard as people protest coronavirus disease (COVID-19) restrictions and hold a vigil to commemorate the victims of a fire in Urumqi, as outbreaks of the coronavirus disease continue, in Beijing, China, November 27, 2022. REUTERS/Thomas Peter
Ilustrasi -- Unjuk rasa memprotes pembatasan ketat Corona di China (dok. REUTERS/Thomas Peter)
Beijing -

Otoritas China melonggarkan pembatasan virus Corona (COVID-19) secara nasional. Keputusan melonggarkan pembatasan Corona ini diumumkan menyusul aksi protes besar-besaran terhadap kebijakan Corona yang ketat, yang meluas menjadi seruan kebebasan politik yang lebih besar.

Seperti dilansir AFP, Rabu (7/12/2022), kemarahan publik atas kebijakan nol-COVID yang ketat -- melibatkan lockdown ketat, tes Corona massal dan karantina lama bahkan untuk mereka yang tidak terinfeksi -- telah memicu protes besar yang tidak terlihat di China sejak unjuk rasa pro-demokrasi tahun 1989 silam.

Di bawah panduan terbaru yang diumumkan Komisi Kesehatan Nasional China (NHC), frekuensi dan ruang lingkup tes PCR akan dikurangi. Sebelumnya diketahui bahwa tes PCR diwajibkan bagi setiap warga yang beraktivitas, terutama saat mengakses tempat-tempat umum.

Lockdown juga akan diperkecil skalanya, sedangkan orang-orang dengan kasus COVID-19 yang tidak parah bisa melakukan isolasi mandiri di rumah, bukan di fasilitas pemerintah terpusat seperti sebelumnya.

Tidak hanya itu, warga tidak lagi diwajibkan menunjukkan kode kesehatan warna hijau di ponsel mereka untuk bisa memasuki gedung dan tempat umum. Namun aturan itu masih akan diberlakukan untuk 'panti jompo, institusi medis, taman kanak-kanak (TK), juga sekolah menengah dan sekolah tinggi'.

Panduan terbaru juga membatalkan karantina paksa untuk orang-orang yang terinfeksi namun tanpa gejala atau bergejala ringan.

"Orang-orang yang terinfeksi tanpa gejala dan kasus-kasus ringan yang memenuhi syarat untuk isolasi mandiri pada umumnya menjalani isolasi di rumah, atau mereka bisa secara sukarela memilih isolasi terpusat untuk pengobatan," demikian bunyi panduan terbaru dari NHC.

"Tes PCR massal hanya dilakukan di sekolah-sekolah, rumah sakit, panti jompo dan unit-unit kerja berisiko tinggi; dengan ruang lingkup dan frekuensi tes PCR akan semakin dikurangi," sebut panduan terbaru itu.

Lihat juga video 'Momen Warga China Dorong-dorongan dengan Nakes Berhazmat di Shanghai':

[Gambas:Video 20detik]



Simak berita selengkapnya di halaman selanjutnya.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT