PM Finlandia Blak-blakan, Perang Rusia Tunjukkan Eropa Tak Cukup Kuat!

ADVERTISEMENT

PM Finlandia Blak-blakan, Perang Rusia Tunjukkan Eropa Tak Cukup Kuat!

Rita Uli Hutapea - detikNews
Jumat, 02 Des 2022 12:07 WIB
Finnish Prime Minister Sanna Marin gives a speech during a meeting of her Social Democratic party in Lahti, Finland on August 24, 2022. - Marin gave an emotional defence of her work record and her right to a private life after criticism sparked by a video of the 36-year-old partying. - Finland OUT (Photo by Heikki Saukkomaa / Lehtikuva / AFP) / Finland OUT (Photo by HEIKKI SAUKKOMAA/Lehtikuva/AFP via Getty Images)
PM Finlandia Sanna Marin (Foto: Dok. HEIKKI SAUKKOMAA/Lehtikuva/AFP via Getty Image)
Jakarta -

Perdana Menteri (PM) Finlandia Sanna Marin memberikan penilaian yang "sangat jujur" atas kemampuan Eropa di tengah perang Rusia di Ukraina. Dia blak-blakan mengatakan bahwa "kami tidak cukup kuat" untuk menghadapi Moskow sendirian.

Dilansir kantor berita AFP, Jumat (2/12/2022), dalam kunjungan ke Australia, Marin mengatakan bahwa invasi Rusia ke Ukraina telah mengungkap kelemahan Eropa dan kesalahan strategis dalam berurusan dengan Rusia.

"Saya harus sangat jujur, sangat jujur dengan Anda, Eropa tak cukup kuat saat ini. Kami akan berada dalam masalah tanpa Amerika Serikat," katanya kepada Lowy Institute di Sydney.

Marin bersikeras Ukraina harus diberikan "apa pun yang diperlukan" untuk memenangkan perang ini. Pemimpin Finlandia itu menambahkan bahwa Amerika Serikat telah berperan penting dalam memasok senjata, keuangan, dan bantuan kemanusiaan yang diperlukan Ukraina untuk menangkal kemajuan Rusia.

"Kami harus memastikan bahwa kami juga membangun kemampuan itu ketika menyangkut pertahanan Eropa, industri pertahanan Eropa, dan memastikan bahwa kami dapat mengatasi situasi yang berbeda," katanya.

Finlandia telah memenangkan kemerdekaan dari Rusia hampir 105 tahun yang lalu. Negara itu berhasil menimbulkan banyak korban pada tentara Uni Soviet yang menyerang tak lama setelahnya meskipun kalah persenjataan.

Pemimpin Finlandia berusia 37 tahun itu mengecam kebijakan Uni Eropa (UE) yang menekankan pentingnya keterlibatan dengan Putin. Dia mengatakan blok itu seharusnya mendengarkan negara-negara anggota yang merupakan bagian dari Uni Soviet sebelum runtuh.

Lihat juga video 'Rusia Tengah Menyusun Kekuatan baru di Ukraina':

[Gambas:Video 20detik]





ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT