Panas! Erdogan Ancam Lakukan Serangan Darat ke Suriah

ADVERTISEMENT

Panas! Erdogan Ancam Lakukan Serangan Darat ke Suriah

Rita Uli Hutapea - detikNews
Selasa, 22 Nov 2022 11:07 WIB
Turkeys President Recep Tayyip Erdogan looks up during a joint news conference with German Chancellor Angela Merkel following their meeting at Huber Villa presidential palace, in Istanbul, Turkey, Saturday, Oct. 16, 2021. The leaders discussed Ankaras relationship with Germany and the European Union as well as regional issues including Syria and Afghanistan. (AP Photo/Francisco Seco)
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (Foto: AP/Francisco Seco)
Jakarta -

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengancam akan memperluas operasi militer terhadap militan Kurdi di wilayah Suriah utara dengan melakukan serangan darat. Hal ini berisiko meningkatkan ketegangan di Suriah di mana pasukan Amerika Serikat dan Rusia hadir.

"Ini tidak terbatas hanya pada kampanye udara," kata Erdogan kepada wartawan, setelah serangan udara yang menargetkan kelompok Kurdi, Partai Pekerja Kurdistan (PKK) di Irak dan Unit Perlindungan Rakyat (YPG), afiliasi PKK di Suriah.

"Kami akan berkonsultasi dengan Kementerian Pertahanan dan staf jenderal kami dan memutuskan bersama sejauh mana pasukan darat kami perlu berkontribusi, kemudian mengambil langkah yang sesuai," imbuh Erdogan seperti dilansir Financial Times, Selasa (22/11/2022).

Erdogan selama berbulan-bulan telah mengancam akan melancarkan serangan darat terhadap YPG di Suriah utara, yang menurutnya menimbulkan risiko keamanan nasional bagi Turki.

Sebelumnya pada Minggu (20/11), pesawat-pesawat tempur Turki melakukan serangan udara terhadap pangkalan-pangkalan militan Kurdi di Suriah dan Irak, menghancurkan 89 target, kata Kementerian Pertahanan Turki. Serangan udara itu dilakukan Turki sebagai pembalasan atas serangan bom di kota Istanbul yang menewaskan enam orang dan melukai 81 orang lainnya pekan lalu.

Otoritas Turki menyalahkan PKK atas ledakan Istanbul tersebut. Kelompok-kelompok Kurdi membantah bertanggung jawab atas ledakan bom pada 13 November tersebut.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT