Kasus COVID-19 Meningkat, Beijing Desak Penduduk Tidak Keluar Rumah

ADVERTISEMENT

Kasus COVID-19 Meningkat, Beijing Desak Penduduk Tidak Keluar Rumah

Arief Ikhsanudin - detikNews
Senin, 21 Nov 2022 05:46 WIB
People wearing face masks stand in line for their routine COVID-19 tests at a coronavirus testing site setup at a tunnel in the central business district of Beijing, Wednesday, Nov. 16, 2022. Chinese authorities locked down a major university in Beijing on Wednesday after finding one COVID-19 case as they stick to a zero-COVID approach despite growing public discontent. (AP Photo/Andy Wong)
Foto:Universitas di Beijing Lockdown Usai Temuan Satu Kasus COVID-19 (AP/Andy Wong)
Beijing -

Kasus virus Corona (COVID-19) meningkat dan satu orang meninggal di Beijing, China. Kondisi itu membuat pemerintah Beijing mendesak penduduk untuk tinggal di dalam rumah.

Dilansir Reuters, pemerintah Beijing, meminta warga di distrik terpadat, Chaoyang untuk tetap tinggal di rumah pada Senin (21/11/2022). Dilaporkan, banyak bisnis tutup, dan sekolah mengubah sistem belajar menjadi daring. Diketahui, Chaoyang merupakan tempat tinggal bagi 3,5 juta orang, termasuk kedutaan, dan perkantoran.

"Jumlah kasus yang ditemukan di luar karantina meningkat pesat saat ini, dan ada risiko penularan tersembunyi dari berbagai tempat," kata Liu Xiaofeng, wakil direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Beijing, dalam jumpa pers.

"Tekanan terhadap Beijing semakin meningkat," katanya.

Ibu kota China melaporkan 621 infeksi baru pada Sabtu, naik dari 515 sehari sebelumnya. Mulai pukul 3 sore. pada hari Minggu, itu menambah 516 infeksi baru.

Diberitakan sebelumnya, China melaporkan kasus kematian pertamanya akibat Covid-19. Kasus kematian yang pertama kali terjadi sejak Mei 2022 lalu itu seiring dengan meningkatnya kasus COVID-19 di China.

Dilansir AFP, Minggu (20/11/2022), pejabat Kota Beijing mengumumkan seorang pria berusia 87 tahun telah meninggal usai Komisi Kesehatan Nasional mencatat lebih dari 24.000 infeksi terjadi di seluruh negeri dalam 24 jam sebelumnya.

Meskipun kasus yang dicatat relatif rendah dibandingkan dengan negara lain, namun lonjakan baru-baru ini sangat signifikan di China yang selama berbulan-bulan melaporkan segelintir kasus.

(aik/aik)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT