Australia Akan Pulangkan Puluhan Warganya dari Suriah

ADVERTISEMENT

Australia Akan Pulangkan Puluhan Warganya dari Suriah

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 03 Okt 2022 15:27 WIB
Women and children gather in front their tents at al-Hol camp that houses some 60,000 refugees, including families and supporters of the Islamic State group, many of them foreign nationals, in Hasakeh province, Syria, Saturday, May 1, 2021. Kurdish officials say security has improved at the sprawling camp in northeast Syria, but concerns are growing of a coronavirus outbreak in the facility. (AP Photo/Baderkhan Ahmad)
Kamp-kamp tahanan di Suriah (dok. AP/Baderkhan Ahmad)
Canberra -

Australia dilaporkan akan memulangkan puluhan wanita dan anak-anak dari kamp-kamp tahanan di Suriah. Canberra enggan mengonfirmasi laporan itu, namun menegaskan bahwa 'prioritas utamanya' adalah melindungi warga negaranya.

Seperti dilansir AFP, Senin (3/10/2022), media-media Australia, yang dimulai dengan laporan media Inggris The Guardian, menyebut pemerintah Australia memutuskan untuk memulangkan sekitar 20 wanita dan sedikitnya 40 anak-anak berkewarganegaraan Australia dari kamp-kamp di Suriah.

Juru bicara dari Menteri Dalam Negeri Clare O'Neil enggan mengonfirmasi laporan media itu, namun mengatakan bahwa pemerintah akan melindungi rakyatnya.

Wanita dan anak-anak Australia yang akan dipulangkan itu diketahui kini tinggal di kamp tahanan Al-Hol dan Roj di Suriah timur laut yang dikuasai pasukan Kurdi sejak runtuhnya 'kekhalifahan' Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) tahun 2019 lalu.

"Prioritas utama pemerintah Australia adalah perlindungan warga Australia dan kepentingan nasional Australia, yang diinformasikan oleh anjuran keamanan nasional," tegas juru bicara tersebut.

Otoritas Kurdi telah berulang kali menyerukan kepada negara-negara lainnya untuk memulangkan warga negara mereka dari kamp yang penuh sesak di Suriah.

Meskipun ada seruan dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan berbagai kelompok-kelompok hak asasi manusia (HAM), beberapa negara menerima kembali warganya secara sporadis karena mengkhawatirkan ancaman keamanan dan reaksi politik dalam negeri.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT