ADVERTISEMENT

Gustavo Petro Dilantik Jadi Presiden Kolombia Pertama dari Golongan Kiri

Arief Ikhsanudin - detikNews
Senin, 08 Agu 2022 05:02 WIB
Colombias new President Gustavo Petro gestures during the inauguration ceremony at the Bolivar square in Bogota, on August 7, 2022. - Ex-guerrilla and former mayor Gustavo Petro was sworn in as Colombias first-ever leftist president, with plans for profound reforms in a country beset by economic inequality and drug violence. (Photo by JUAN BARRETO / AFP)
Gustavo Petro usai dilantik menjadi Presiden Kolombia (AFP/JUAN BARRETO).
Bogota -

Gustavo Petro mengucapkan sumpah jabatannya sebagai Presiden Kolombia. Dia menjadi presiden dari kelompok kiri pertama di Kolombia.

Dilansir dari kantor berita AFP, Senin (8/8/2022), Gustavo diambil sumpahnya pada Minggu (7/8) waktu setempat. Gustavo Petro merupakan mantan geriliyawan berusia 62 tahun, dia pernah menjabat sebagai Wali Kota. Dia mengucap ikrar di depan kerumunan ratusan ribu orang pada pelantikannya di Bogota.

Kemenangan Petro yang berjuang keras dalam pemilihan Juni membawa Kolombia, yang telah lama diperintah oleh elit konservatif, ke dalam sayap kiri yang berkembang di Amerika Latin.

"Saya bersumpah demi Tuhan dan berjanji kepada rakyat bahwa saya akan setia menegakkan konstitusi dan hukum Kolombia," kata Petro dalam sumpah jabatannya.

Pada upacara di Bogota pada malam pelantikannya, Petro mengatakan pemerintahnya, yang seharusnya mendapat dukungan dari mayoritas berhaluan kiri di Kongres, akan bertujuan untuk "membawa ke Kolombia apa yang tidak dimiliki selama berabad-abad, yaitu ketenangan dan perdamaian."

"Di sini dimulai pemerintahan yang akan memperjuangkan keadilan lingkungan," tambahnya.

Semasa kampanye, Petro berjanji selama empat tahun masa jabatannya untuk menaikkan pajak pada orang kaya, berinvestasi dalam perawatan kesehatan dan pendidikan, dan mereformasi polisi setelah tindakan keras brutal terhadap protes anti-ketidaksetaraan tahun lalu yang dikutuk secara internasional.

Dia telah berjanji untuk menangguhkan eksplorasi minyak, untuk mempromosikan energi bersih dan untuk mengaktifkan kembali hubungan diplomatik dan komersial dengan pemerintah Nicolas Maduro di Venezuela, yang ditangguhkan sejak 2019.

Petro mulai dari "posisi yang patut ditiru, dengan mayoritas besar di Kongres dan, dalam hal jalanan, dengan dukungan yang tidak dimiliki pemerintah dalam beberapa tahun terakhir," analis Jorge Restrepo dari Pusat Sumber Daya untuk Analisis Konflik (Cerac), mengatakan kepada AFP.

Simak juga 'Ngeri! Tsunami Busa Berbau Tajam Timbun Perumahan di Kolombia':

[Gambas:Video 20detik]



(aik/aik)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT