ADVERTISEMENT

AS Sebut Rusia Bersiap Caplok Wilayah Ukraina yang Dikuasainya

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 20 Jul 2022 11:28 WIB
Destroyed vehicles are seen at the site of a Russian military strike, as Russias attack on Ukraine continues, in Vinnytsia, Ukraine July 14, 2022. Press service of the State Emergency Service of Ukraine/Handout via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY.
Ilustrasi -- Kehancuran di wilayah Ukraina yang terus diinvasi Rusia (dok. REUTERS/STATE EMERGENCY SERVICE OF UKRAINE)
Washington DC -

Rusia disebut tengah mempersiapkan landasan untuk pencaplokan wilayah Ukraina yang tengah diinvasinya sejak Februari. Rusia dilaporkan menempatkan para pejabat proxy tidak sah di wilayah-wilayah yang kini dikuasai Moskow, demi mendapatkan kendali penuh atas pencapaiannya di Ukraina bagian timur.

Seperti dilansir Reuters, Rabu (20/7/2022), informasi itu diungkapkan oleh juru bicara Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS), John Kirby, saat berbicara dalam pengarahan pers di Gedung Putih pada Selasa (19/7) waktu setempat.

Kirby mengungkapkan bahwa intelijen AS mengindikasikan Rusia tengah bersiap untuk menempatkan para pejabat proxy, menetapkan Rubel sebagai mata uang default dan memaksa warga setempat untuk mendaftar kewarganegaraan.

"Kami memiliki informasi hari ini, termasuk dari intelijen yang diturunkan yang bisa kami bagikan kepada Anda, soal bagaimana Rusia meletakkan dasar untuk mencaplok wilayah Ukraina yang dikuasainya dalam pelanggaran langsung terhadap kedaulatan Ukraina," sebut Kirby dalam pernyataannya.

Ini merupakan taktik yang sama yang digunakan tahun 2014 lalu, ketika Rusia mengumumkan pencaplokan Crimea setelah merebutnya dari Ukraina. Komunitas internasional menganggap pencaplokan Crimea oleh Rusia itu tidak sah.

"Kami hanya ingin menjelaskannya kepada rakyat Amerika. Tidak ada yang tertipu olehnya. (Presiden Rusia Vladimir Putin) Menggunakan kembali buku pedoman dari tahun 2014," ujar Kirby.

Rusia mengirimkan puluhan ribu tentaranya ke Ukraina sejak 24 Februari lalu, dalam aksi yang diklaim Moskow sebagai 'operasi militer khusus' untuk menjamin keamanan wilayahnya sendiri.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT