ADVERTISEMENT

Demonstran Temukan USD 49 Ribu di Ruangan Presiden Sri Lanka!

Firda Cynthia Anggrainy - detikNews
Minggu, 10 Jul 2022 14:54 WIB
Kediaman resmi Presiden Sri Lanka di Kolombo, diserbu pengunjuk rasa pada Sabtu (9/7) waktu setempat. Di sana mereka asyik bernyanyi, menari, hingga berenang.
Foto: AP Photo
Jakarta -

Demonstran 'menduduki' Istana Kepresidenan Sri Lanka di Kolombo saat menuntut Presiden Gotabaya Rajapaksa mengundurkan diri. Dalam aksi tersebut, para demonstran menemukan uang tunai sebesar USD49,000 atau 17,8 juta Rupee di ruangan Rajapaksa.

Seperti dikutip dari AFP, Minggu (10/7/2022), ratusan ribu demonstran berkumpul di Kolombo pada Sabtu (9/7) untuk menuntut pertanggungjawaban atas kesalahan mengelola uang negara.

"Perjuangan kami belum berakhir," kata Lahiru Weerasekara, pemimpin mahasiswa yang turut ikut protes.

"Ketika kami menerobos penghalang terakhir, kami tahu militer mungkin akan melepaskan tembakan. Kami mempertaruhkan hidup kami," ujar Lahiru.

Lahiru menekankan perjuangannya tak akan padam sejauh Rajapaksa belum mundur. "Kami tidak akan menyerah sampai dia benar-benar pergi," katanya.

Lahiru kemudian mengatakan pihaknya menemukan uang tunai sebesar atau 17,8 juta Rupee di ruangan Rajapaksa. Dia mengatakan uang itu langsung diserahkan ke pihak kepolisian.

Sri Lanka Alami Krisis Ekonomi Terburuk

Selama berbulan-bulan, Sri Lanka yang berpenduduk 22 juta jiwa ini telah menderita kekurangan makanan, bahan bakar, dan pemadaman listrik serta mengalami inflasi yang tinggi setelah pemerintah kehabisan mata uang asing untuk mengimpor barang-barang vital.

Negara ini menderita inflasi yang merajalela dan sedang berjuang untuk mengimpor makanan, bahan bakar dan obat-obatan. Banyak yang menyalahkan situasi ekonomi negara yang mengerikan ini pada Presiden Rajapaksa. Aksi-aksi demonstrasi pun telah berlangsung sejak Maret lalu untuk menuntut dia mundur.

Perdana Menteri (PM) Sri Lanka Ranil Wickremesinghe mengakui negaranya telah bangkrut. Dia menyebut Sri Lanka yang dulunya negara makmur akan mengalami resesi yang dalam.

"Kita juga harus menghadapi kesulitan-kesulitan pada tahun 2023," ucap Wickremesinghe kepada parlemen Sri Lanka pada Selasa (5/7) waktu setempat.

(fca/gbr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT