ADVERTISEMENT

6 Fakta Ngeri Krisis Sri Lanka hingga Ibu Tak Bisa Beli Susu Bayi

Rakhmad Hidayatulloh Permana, Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 07 Jul 2022 05:16 WIB
Krisis ekonomi Sri Lanka: Saya tak sanggup membeli susu untuk bayi saya
Foto: Anak-anak Sri Lanka kelaparan (BBC World)
Jakarta -

Sri Lanka sedang dilanda krisis parah. Bahkan, krisis ini sampai membuat para ibu tak bisa membeli susu untuk bayinya.

Perdana Menteri (PM) Sri Lanka Ranil Wickremesinghe mengakui negaranya telah bangkrut. Dia menyebut penderitaan akut dari krisis ekonomi masih akan dirasakan setidaknya hingga akhir tahun 2023 mendatang.

Seperti dilansir AFP, Selasa (5/7/2022), Sri Lanka yang berpenduduk 22 juta jiwa ini dilanda inflasi selama berbulan-bulan dan pemadaman listrik berkepanjangan setelah pemerintah kehabisan mata uang asing untuk mengimpor barang-barang vital.

1. Krisis bisa sampai 2023

Wickremesinghe menyebut Sri Lanka yang dulunya negara makmur akan mengalami resesi yang dalam tahun ini dan kekurangan pangan, bahan bakar serta obat-obatan secara akut akan terus berlanjut.

"Kita juga harus menghadapi kesulitan-kesulitan pada tahun 2023," ucap Wickremesinghe kepada parlemen Sri Lanka pada Selasa (5/7) waktu setempat.

Dia mengatakan bahwa pembicaraan soal bailout untuk Sri Lanka yang masih berlangsung dengan Dana Moneter Internasional (IMF) akan bergantung pada penyelesaian rencana restrukturisasi utang dengan para kreditur pada Agustus mendatang.

"Kita sekarang berpartisipasi dalam perundingan sebagai negara bangkrut," ujar Wickremesinghe dalam pernyataannya.

"Karena situasi kebangkrutan yang dialami negara kita, kita harus menyerahkan rencana keberlanjutan utang kepada mereka secara terpisah. Hanya ketika (IMF) puas dengan rencana itu, kita bisa mencapai kesepakatan," imbuhnya.

Simak juga Video: Warga Sri Lanka Ramai-ramai Berburu Sepeda di Tengah Krisis BBM

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT