ADVERTISEMENT

PM Inggris: Jika Putin Wanita, Tak Akan Ada Perang Ukraina!

Rita Uli Hutapea - detikNews
Kamis, 30 Jun 2022 10:24 WIB
(FILES) In this file photo taken on July 23, 2019 new Conservative Party leader and incoming prime minister Boris Johnson arrives at the Conservative party headquarters in central London. - On July 23, 2019, party members choose Brexit figurehead Boris Johnson as their new leader. He becomes prime minister the next day. (Photo by Niklas HALLEN / AFP)
PM Inggris Boris Johnson (Foto: AFP/NIKLAS HALLE'N)
Jakarta -

Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin tidak akan memulai perang di Ukraina jika dia seorang wanita. Putin pun memberikan balasan menohok.

"Jika Putin adalah seorang wanita, yang tentunya dia bukan (wanita), tetapi jika dia wanita, saya benar-benar tidak berpikir dia akan memulai perang invasi dan kekerasan yang gila dan macho seperti yang dia lakukan," kata Johnson kepada media Jerman, ZDF seperti diberitakan kantor berita AFP, Kamis (30/6/2022).

Pemimpin Inggris itu menyebut invasi Putin ke Ukraina adalah "contoh sempurna dari maskulinitas beracun", seraya, menyerukan pendidikan yang lebih baik untuk anak-anak perempuan di seluruh dunia dan untuk "lebih banyak wanita di posisi kekuasaan".

Putin, yang berbicara di ibu kota Turkmenistan, Ashgabat, merespons komentar Johnson tersebut dengan menyebutnya sebagai hal yang "tidak benar".

"Saya ingin menunjukkan peristiwa dalam sejarah modern ketika (mantan perdana menteri Inggris) Margaret Thatcher memutuskan untuk melancarkan serangan terhadap Argentina untuk menguasai Kepulauan Falkland pada tahun 1982," cetus Putin.

"Di sana, seorang wanita memutuskan untuk memulai perang, yang berakhir dengan kemenangan Inggris pada tahun yang sama," kata pemimpin Rusia itu.

Selama wawancara ZDF tersebut, Johnson juga mengakui bahwa "tentu saja orang-orang ingin perang berakhir, tetapi untuk saat ini tidak ada kesepakatan yang tersedia". PM Inggris itu menyebut Putin tidak membuat tawaran perdamaian.

Sebelumnya, Kanselir Jerman Olaf Scholz menegaskan negara-negara anggota aliansi militer Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) akan terus mendukung kemampuan Ukraina dalam mempertahankan diri melawan invasi militer Rusia. Scholz menyatakan pasokan senjata akan terus dikirim ke Ukraina selama diperlukan.

Simak Video 'Saat Citra 'Macho' Putin Diolok-olok Petinggi G7':

[Gambas:Video 20detik]





ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT