ADVERTISEMENT

Pastor di Kanada Ditangkap Atas Dugaan Kekerasan Seks Masa Lalu

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Sabtu, 18 Jun 2022 05:46 WIB
People march during the Every Child Matters walk in honour of children who lost their lives in Canadas Residential School system, in Toronto, Canada, on July 1, 2021. - More than 750 unmarked graves have been found near a former Catholic boarding school for indigenous children in western Canada,-- the second such shock discovery in less than a month. (Photo by Cole Burston / AFP)
Ilustrasi (Foto: AFP/COLE BURSTON)
Ottawa -

Polisi Kanada mengumumkan telah menangkap seorang imam Katolik. Pastor itu ditangkap atas kasus dugaan penyerangan seksual kepada siswa di sekolah pribumi pada 5 dekade silam.

Dilansir AFP, Sabtu (18/6/2022), pensiunan Pastor Arthur Masse (92) telah didakwa dengan penyerangan tidak senonoh. Dia akan dihadirkan di pengadilan pada 20 Juli mendatang.

Para pemimpin adat telah menyerukan penuntutan terhadap mantan guru dan kepala sekolah di sekolah-sekolah pribumi menyusul penemuan mengejutkan lebih dari 1.300 kuburan anak tak dikenal di situs-situs tersebut tahun lalu. Penemuan kuburan massal ini mengungkap babak kelam dalam sejarah kolonial Kanada.

Sekitar 150.000 anak-anak Pribumi, Metis, dan Inuit didaftarkan secara paksa dari akhir 1800-an hingga 1990-an di 139 sekolah asrama di seluruh Kanada. Mereka menghabiskan berbulan-bulan atau bertahun-tahun terisolasi dari keluarga, bahasa, dan budaya mereka.

Banyak dari anak-anak tersebut mengalami kekerasan fisik dan seksual, serta ribuan diyakini telah meninggal karena penyakit, kekurangan gizi atau penelantaran.

Korban dalam kasus ini berusia 10 tahun ketika dugaan pelanggaran dimulai di sekolah asrama Fort Alexander di Manitoba, antara tahun 1968 dan 1970.

"Korban dalam kasus ini telah mengalami banyak hal selama proses investigasi dan telah berdiri teguh dalam berbicara tentang apa yang terjadi padanya," kata Sersan Polisi Berkuda Kanada Paul Manaigre dalam konferensi pers.

"Yang paling penting baginya, hari ini, dia didengar," katanya.

Manaigre mencatat bahwa 80 petugas terlibat dalam penyelidikan yang mencakup penelitian arsip, dan diperluas lebih dari satu dekade untuk memasukkan 75 kemungkinan korban dan saksi.

Akan tetapi, korban sisanya tidak ingin terlibat dalam penyelidikan, atau tidak ada cukup bukti untuk menguatkan klaim mereka, serta ada di antara korban sudah meninggal.

"Ini adalah pengalaman yang traumatis. Beberapa dari mereka tidak ingin menghidupkannya kembali. Kami mengerti," komentar Manaigre, sambil menunjukkan kemungkinan bahwa lebih banyak korban akan muncul.

"Saat ini, ini adalah satu-satunya penyelidikan yang dilakukan (di Manitoba) mengenai sekolah asrama dan ini adalah satu-satunya dakwaan," katanya, seraya menambahkan bahwa tidak ada batasan waktu untuk melaporkan serangan seksual di Kanada.

Sampai saat ini, tidak ada investigasi kriminal sekolah lainnya yang diumumkan secara terbuka di tempat lain di Kanada.

Simak juga 'Waligereja Prancis soal Pelecehan Seks Anak: Hukum di Atas Pengakuan Dosa':

[Gambas:Video 20detik]



(lir/lir)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT