ADVERTISEMENT

China Tegaskan Dukungan untuk Rusia, AS Tanggapi Sinis!

Rita Uli Hutapea - detikNews
Kamis, 16 Jun 2022 10:13 WIB
FILE - Chinese President Xi Jinping, right, and Russian President Vladimir Putin talk to each other during their meeting in Beijing, China on Feb. 4, 2022. Three weeks ago, on the eve of the Beijing Winter Olympics, the leaders of China and Russia declared that the friendship between their countries
Vladimir Putin dan Xi Jinping (Foto: Alexei Druzhinin, Sputnik, Kremlin Pool Photo via AP, File)
Jakarta -

Presiden China Xi Jinping meyakinkan Presiden Rusia Vladimir Putin soal dukungan China pada "kedaulatan dan keamanan" Rusia. Pemerintah Amerika Serikat dengan cepat menanggapi sinis dukungan China tersebut. Washington mengingatkan Beijing bahwa hal itu berisiko berakhir "di sisi sejarah yang salah".

China selama ini telah menolak untuk mengutuk serangan militer besar-besaran Moskow di Ukraina. China juga dituduh memberikan perlindungan diplomatik untuk Rusia dengan mengecam sanksi-sanksi Barat dan penjualan senjata ke Ukraina.

Dilansir dari kantor berita AFP, Kamis (16/6/2022), media China, CCTV melaporkan bahwa dalam panggilan telepon dengan Putin pada Rabu (15/6) waktu setempat, Xi Jinping mengatakan China "bersedia untuk terus menawarkan dukungan timbal balik (kepada Rusia) pada isu-isu mengenai kepentingan inti dan keprihatinan utama seperti kedaulatan dan keamanan".

Itu adalah panggilan telepon kedua yang dilaporkan antara kedua pemimpin tersebut sejak Putin melancarkan invasi ke Ukraina pada 24 Februari.

Menurut CCTV, Xi memuji "momentum pembangunan yang baik" dalam hubungan bilateral sejak awal tahun "dalam menghadapi gejolak dan perubahan global".

Xi mengatakan bahwa Beijing bersedia "mengintensifkan koordinasi strategis antara kedua negara".

Sementara itu, Kremlin mengatakan kedua pemimpin telah sepakat untuk meningkatkan kerja sama ekonomi dalam menghadapi sanksi-sanksi Barat yang "melanggar hukum".

"Disepakati untuk memperluas kerja sama di bidang energi, keuangan, industri, transportasi, dan bidang lainnya, dengan mempertimbangkan situasi ekonomi global yang semakin rumit karena kebijakan sanksi yang tidak sah dari Barat," kata Kremlin setelah panggilan telepon tersebut.

Pemerintah Amerika Serikat dengan cepat mengomentari hal tersebut.

Simak juga 'China Siap Perang Jika Ada yang Berani Pisahkan Taiwan':

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT