ADVERTISEMENT

China-Australia Ribut Soal Pesawat Mata-mata di Laut China Selatan

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 07 Jun 2022 12:16 WIB
FILE - In this undated file photo released by the Taiwan Ministry of Defense, a Chinese PLA J-16 fighter jet flies in an undisclosed location. China says a recent increase in military exercises and warplane missions near Taiwan are necessary to defend national sovereignty and territorial integrity. (Taiwan Ministry of Defense via AP, File)
Ilustrasi -- Jet tempur J-16 milik China yang dituduh 'secara berbahaya' mencegat pesawat mata-mata Australia di Laut China Selatan (Taiwan Ministry of Defense via AP, File)
Beijing -

Pemerintah China geram setelah Australia menuduh sebuah jet tempur Beijing secara berbahaya mencegat salah satu pesawat mata-mata Canberra di atas perairan Laut China Selatan. China pun memperingatkan Australia untuk 'bertindak dengan hati-hati' atau akan menghadapi 'konsekuensi serius'.

Seperti dilansir AFP, Selasa (7/6/2022), Australia berargumen bahwa bukannya tidak biasa untuk melakukan penerbangan pengintaian di Laut China Selatan -- perairan yang bersikeras dinyatakan oleh Beijing sebagai bagian wilayahnya, meskipun putusan pengadilan Den Haag tahun 2016 mementahkan klaim itu.

Sikap China itu semakin meningkatkan ketegangan dengan Amerika Serikat (AS) dan sekutu-sekutunya, yang menuntut kebebasan navigasi di area tersebut.

Menteri Pertahanan (Menhan) Australia Richard Marles, pada Minggu (5/6) waktu setempat, menyatakan sebuah jet tempur J-16 milik China mencegat sebuah pesawat pengintai P-8 dalam insiden yang terjadi akhir bulan lalu.

Dia menyebutnya sebagai manuver 'berbahaya' yang membahayakan keselamatan awak Pasukan Pertahanan Australia.

Namun pemerintah China memberikan tanggapan keras pada Senin (6/6) waktu setempat, dengan menegaskan pihaknya 'tidak akan pernah membiarkan negara manapun untuk melanggar kedaulatan dan keamanan China ... dengan dalih kebebasan navigasi'.

"China sekali lagi mendesak Australia untuk menghormati dengan tulis kepentingan keamanan nasional dan kepentingan inti China, bertindak dan berbicara dengan hati-hati demi menghindari salah perhitungan, yang berdampak pada konsekuensi serius," tegas juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian.

Insiden itu terjadi tiga bulan setelah Australia menuduh militer China menyorotkan sinar laser level militer ke salah satu pesawat pertahanan Canberra di atas perairan Australia bagian utara, yang oleh pemerintahan sebelumnya disebut 'tindakan intimidasi'.

Zhao pada Senin (6/6) waktu setempat menegaskan bahwa militer China selalu menjalankan operasi dalam 'cara yang aman, standar dan profesional' sesuai dengan hukum internasional.

Simak juga 'Mengulik Desain Pesawat Ruang Angkasa Shenzhou-14':

[Gambas:Video 20detik]



(nvc/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT