Penembakan di Gereja California, Pelakunya Imigran China Benci Taiwan

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 17 Mei 2022 11:05 WIB
Crime scene tape is stretched across an area at Geneva Presbyterian Church in Laguna Woods, Calif., Sunday, May 15, 2022, after a fatal shooting. (AP Photo/Damian Dovarganes)
Garis polisi dipasang di sekeliling lokasi penembakan fatal di Geneva Presbyterian Church di California, AS (dok. AP Photo/Damian Dovarganes)
california -

Seorang imigran China diidentifikasi sebagai pelaku penembakan fatal di sebuah gereja di California, Amerika Serikat (AS), yang menewaskan satu orang dan melukai lima orang lainnya. Penembakan di gereja yang kebanyakan jemaatnya warga Taiwan-Amerika itu dimotivasi oleh kebencian pelaku terhadap Taiwan.

Seperti dilansir AFP, Selasa (17/5/2022), motif penembakan itu diungkap oleh para penyelidik AS, yang mengidentifikasi pelaku sebagai David Chou, seorang warga AS berusia 68 tahun yang berasal dari China.

Disebutkan bahwa pelaku mengunci pintu gereja dengan menggunakan rantai dan lem super, saat puluhan jemaat sedang menikmati jamuan makan usai ibadah pada Minggu (15/5) waktu setempat di gereja yang ada di area Laguna Woods, dekat Los Angeles tersebut.

Pelaku juga disebut menyembunyikan tas berisi bom molotov dan amunisi cadangan di sekitar gedung gereja, sebelum melepas tembakan dengan dua pistol. Para penyelidik AS menyebutnya sebagai upaya 'metodis' untuk melakukan pembantaian.

"Kami tahu bahwa dia merumuskan strategi yang ingin dia terapkan," sebut Sheriff Orange County Don Barnes dalam pernyataannya.

"Sudah dipikirkan dengan sangat matang, mulai dari bagaimana dia mempersiapkannya, baik dengan berada di sana, mengamankan lokasi, menempatkan barang-barang di dalam ruangan untuk memicu korban tambahan jika dia memiliki kesempatan," tuturnya.

Para penyelidik AS menyebut bahwa Chou yang bekerja sebagai penjaga keamanan di Las Vegas itu, melancarkan serangan karena 'kebencian bermotivasi politik ... (dan) kesal dengan ketegangan politik antara China dan Taiwan'.

Taiwan memiliki pemerintahan sendiri yang demokratis dan militer sejak berakhirnya perang sipil tahun 1949. Namun China masih meyakini Taiwan sebagai bagian wilayahnya, dan bersikeras akan merebutnya suatu hari nanti.

(nvc/ita)