Kuburan Ditemukan di 53 Sekolah Asrama Khusus Penduduk Asli Amerika

Haris Fadhil - detikNews
Kamis, 12 Mei 2022 07:31 WIB
People walk amongst US national flags erected by students and staff from Pepperdine University to honor the victims of the September 11, 2001 attacks in New York, at their campus in Malibu, California on September 10, 2015. The students placed some 3,000 flags in the ground in tribute to the nearly 3,000 victims lost in the attacks almost 14 years ago.      AFP PHOTO / MARK RALSTON / AFP / MARK RALSTON
Ilustrasi bendera Amerika Serikat (Foto: AFP PHOTO/MARK RALSTON)
Washington DC -

Investigasi Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat (AS) terhadap sejarah kelam sekolah asrama penduduk asli Amerika di AS telah menemukan 'situs pemakaman bertanda atau tidak bertanda'. Makam itu ditemukan di sekitar 53 sekolah.

Dilansir Reuters, Kamis (12/5/2022, Sekretaris Departemen Deb Haaland yang merupakan anggota kabinet penduduk asli Amerika pertama mengumumkan hasil penyelidikan tahun lalu. Dia bicara dengan sambil menangis selama konferensi pers di Washington.

"Kebijakan federal yang berusaha menghapus identitas, bahasa, dan budaya asli terus bermanifestasi dalam penderitaan yang dihadapi komunitas suku hari ini," kata Haaland.

"Kita harus menjelaskan trauma masa lalu yang tak terucapkan," sambungnya.

Pemerintah AS sebelumnya belum memberikan pertanggungjawaban yang benar tentang warisan sekolah, yang menggunakan pendidikan untuk mengubah budaya sehingga tanah suku asli dapat diambil. Keluarga suku asli Amerika disebut terpaksa menyekolahkan anak mereka ke sekolah yang disiapkan.

Untuk menyusun laporan Haaland, para peneliti menemukan catatan di 408 sekolah yang menerima dana federal dari tahun 1819 hingga 1969 dan 89 sekolah lain yang tidak menerima uang dari pemerintah. Sekitar setengahnya dijalankan untuk pemerintah, oleh, atau didukung oleh gereja-gereja dari berbagai denominasi. Banyak anak disebut dilecehkan di sekolah dan puluhan ribu tidak pernah terdengar lagi.

Laporan tersebut mencatat 'pelecehan fisik, seksual, dan emosional yang merajalela' terjadi di sekolah-sekolah dan didokumentasikan dengan baik, dan sejauh ini penyelidikan telah menemukan lebih dari 500 anak yang meninggal saat berada dalam tahanan sekolah. Penyelidik mengatakan mereka berharap untuk mengungkap lebih banyak kematian.

Haaland mengatakan dia memulai tur 'jalan menuju penyembuhan' selama setahun untuk mendengarkan para penyintas sistem sekolah asrama. Tujuan penyelidikan selanjutnya adalah untuk memperkirakan jumlah anak yang bersekolah, menemukan lebih banyak tempat pemakaman dan mengidentifikasi berapa banyak uang federal yang pergi ke gereja-gereja yang mengambil bagian dalam sistem sekolah, di antara isu-isu lainnya.

Dia mengatakan Kongres telah menyediakan USD 7 juta untuk melanjutkan penelitian tahun ini, yang menurutnya sangat penting untuk membantu penduduk asli Amerika sembuh.

Haaland, yang merupakan mantan anggota kongres dari New Mexico pada tahun 2020, memperkenalkan undang-undang yang menyerukan Komisi Kebenaran dan Penyembuhan ke dalam kondisi di bekas sekolah asrama penduduk asli Amerika. Aturan itu masih dalam proses.

Kepala Koalisi Penyembuhan Sekolah Asrama Penduduk Asli Amerika, Deborah Parker, yang membantu Departemen Dalam Negeri dalam penyelidikannya, mengatakan laporan itu hanya menggores permukaan trauma.

"Anak-anak kami punya nama. Anak-anak kami punya keluarga. Anak-anak kami punya bahasa sendiri," katanya pada konferensi pers.

"Anak-anak kami memiliki tanda kebesaran, doa, dan agama mereka sendiri sebelum sekolah asrama Indian dengan kejam mengambil mereka," sambungnya.

Lihat video 'Ngeri! 43 Orang Tewas Dalam Kerusuhan di Penjara Ekuador':

[Gambas:Video 20detik]



Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.