Pentagon: Rusia Sudah Gunakan 10-12 Rudal Hipersonik di Ukraina

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 11 Mei 2022 13:00 WIB
An Ukrainian firefighter works near a destroyed building on the outskirts of Odesa, Ukraine, Tuesday, May 10, 2022. The Ukrainian military said Russian forces fired seven missiles a day earlier from the air at the crucial Black Sea port of Odesa, hitting a shopping center and a warehouse. (AP Photo/Max Pshybyshevsky)
Petugas pemadam kebakaran Ukraina bertugas di dekat gedung yang hancur akibat serangan rudal di Odesa (AP Photo/Max Pshybyshevsky)
Washington DC -

Pentagon atau Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) meyakini Rusia telah menembakkan sekitar 10-12 rudal hipersonik sejak melancarkan invasi ke Ukraina pada akhir Februari lalu.

Seperti diilansir BBC, Rabu (11/5/2022), seorang pejabat senior Pentagon yang enggan disebut namanya menyatakan kepada wartawan pada Selasa (10/5) bahwa AS tidak memiliki 'perhitungan sempurna' soal pengerahan persenjataan hipersonik Rusia tersebut.

Rusia sebelumnya mengklaim bahwa rudal hipersonik terbaru buatan mereka yang bernama Kinzhal pertama ditembakkan ke sebuah target di wilayah Ukraina pada Maret lalu. Rusia mengerahkan pasukannya ke Ukraina sejak 24 Februari lalu.

Rudal Kinzhal diklaim bisa mencapai target hingga sejauh 2.000 kilometer dan bisa mengudara lebih cepat dari 6.000 kilometer per jam.

Beberapa waktu terakhir, para pejabat Ukraina mengklaim rudal hipersonik Kinzhal ditembakkan oleh pasukan Rusia ke sejumlah target di wilayah Odesa pada akhir pekan lalu. Rudal-rudal Rusia itu dilaporkan mengenai sebuah pusat perbelanjaan dan dua hotel di kota pelabuhan Odesa, Ukraina bagian selatan.

Juru bicara otoritas militer regional Odesa, Sergey Bratchuk, seperti dilansir CNN, menuturkan bahwa tiga rudal Kinzhal ditembakkan dari sebuah pesawat dan mengenai 'target infrastruktur pariwisata'. Serangan itu dilaporkan terjadi pada Senin (9/5) waktu setempat.

Bratchuk menyatakan ada dua orang yang harus dirawat di rumah sakit akibat serangan rudal Rusia itu. Namun kondisi luka-luka dialami kedua orang itu tidak dijelaskan lebih lanjut.

Secara terpisah, pejabat senior Pentagon menyatakan 'tidak memiliki apapun untuk mengindikasikan' bahwa rudal hipersonik digunakan terhadap target-target di kota pelabuhan Ukraina tersebut.

(nvc/ita)