Duterte-Xi Jinping Bercakap via Telepon, Apa yang Dibahas?

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 09 Apr 2022 20:03 WIB
In this photo provided by the Malacanang Presidential Photographers Division, Philippine President Rodrigo Duterte wears a protective mask as he meets members of the Inter-Agency Task Force on the Emerging Infectious Diseases in Davao province, southern Philippines on Monday Sept. 21, 2020. Duterte says he has extended a state of calamity in the entire Philippines by a year to allow the government to draw emergency funds faster to fight the COVID-19 pandemic and harness the police and military to maintain law and order. (Albert Alcain/Malacanang Presidential Photographers Division via AP)
Presiden Filipina Rodrigo Duterte (dok. Albert Alcain/Malacanang Presidential Photographers Division via AP)
Manila -

Presiden Filipina Rodrigo Duterte dan Presiden China Xi Jinping saling berbicara via telepon pekan ini. Salah satu topik pembahasan kedua kepala negara itu adalah isu Laut China Selatan, yang kerap memicu perselisihan di antara negara-negara yang bersengketa.

Seperti dilansir Reuters, Sabtu (9/4/2022), kantor kepresidenan Filipina dalam pernyataannya menyebut kedua pemimpin menggelar pembicaraan via telepon selama satu jam pada Jumat (8/4) waktu setempat.

Disebutkan bahwa percakapan telepon itu membahas berbagai topik, termasuk kekhawatiran soal krisis Ukraina dan respons atas pandemi virus Corona (COVID-19).

Menurut kantor kepresidenan Filipina, isu Laut China Selatan juga ikut dibahas oleh Duterte dan Xi, dengan keduanya disebut sama-sama menekankan perlunya sikap menahan diri demi menjaga perdamaian di Laut China Selatan yang strategis dan menjadi sengketa beberapa negara itu.

"Para pemimpin menekankan perlunya mengerahkan semua upaya untuk menjaga perdamaian, keamanan dan stabilitas di Laut China Selatan dengan menahan diri, meredakan ketegangan dan bekerja dalam kerangka yang disepakati bersama untuk kerja sama fungsional," sebut kantor kepresidenan Filipina.

Ditambahkan bahwa kedua negara juga berkomitmen untuk memperluas ruang untuk keterlibatan positif bahkan ketika ada perselisihan.

Sejak menjabat tahun 2016, Duterte mengupayakan hubungan yang lebih hangat dengan China. Dia mengesampingkan perselisihan wilayah yang sejak lama terjadi terkait Laut China Selatan dengan imbalan bantuan, pinjaman, dan janji investasi senilai miliaran dolar Amerika.