Pecah Amarah Warga Gegara Krisis Pangan-BBM di Rumah Presiden Sri Lanka

ADVERTISEMENT

Pecah Amarah Warga Gegara Krisis Pangan-BBM di Rumah Presiden Sri Lanka

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 03 Apr 2022 06:30 WIB
Warga Sri Lanka gelar aksi unjuk rasa imbas krisis ekonomi yang memicu kelangkaan BBM dan pemadaman listrik berkepanjangan. Demo diwarnai aksi bakar bus.
Demo di Sri Lanka berujung ricuh. (REUTERS/DINUKA LIYANAWATTE)
Jakarta -

Demo warga Sri Lanka di depan rumah presiden diwarnai tembakan gas air mata polisi hingga berujung ricuh. Demo itu memprotes krisis pangan, bahan bakar, dan listrik.

Pengunjuk rasa yang marah menyerbu barikade. Mereka juga dituduh membakar sebuah bus pada Kamis malam (31/3). Pada Jumat (1/4) pagi, polisi menangkap 45 orang meskipun belum ada tuduhan yang dijatuhkan terhadap mereka.

Presiden Gotabhaya Rajapaksa menyalahkan peristiwa itu pada "elemen-elemen ekstremis". Sri Lanka berada di tengah krisis devisa yang melumpuhkan perekonomiannya.

Warga dilanda pemadaman listrik 13 jam, kekurangan bahan bakar, bahan pangan pokok dan obat-obatan. Kemarahan warga telah mencapai puncaknya.

Awalnya aksi protes di luar rumah presiden dimulai dengan damai, tetapi para demostran mengungkapkan polisi menembakkan gas air mata, meriam air, dan juga memukuli orang-orang yang hadir. Sejumlah orang juga ditahan.

Demo tersebut menandai perubahan besar pada popularitas Presiden Rajapaksa, yang meraih kekuasaan dengan kemenangan mayoritas pada Pemilu 2019. Dia saat itu menjanjikan stabilitas dan "pemerintahan yang kuat" untuk memerintah negara.

Para pengritik menyalahkan korupsi dan nepotisme sebagai alasan utama atas situasi yang dihadapi negara itu. Apalagi saudara-saudara lelaki dan keponakan presiden menempati beberapa kementerian utama.

Warga bertambah marah saat muncul sejumlah kabar bahwa presiden dan para menteri dikecualikan dari pemadaman listrik dan para anggota keluarga mereka masih saja pamer kekayaan.

Pemerintah selama ini menyatakan krisis terjadi akibat pandemi Covid-19 telah menghantam sektor pariwisata, salah satu sumber utama pendapatan Sri Lanka.

Selain itu, serangkaian serangan terhadap gereja-gereja pada Minggu Paskah 2019 lalu, yang menyebabkan penurunan tajam pada jumlah wisatawan, juga dituding sebagai penyebab lainnya. Namun, para ahli mengatakan krisis ini sudah terjadi sejak lama.

"Ini adalah ledakan, hasil akumulasi dari apa yang telah dibangun selama beberapa dekade, dan seperti biasa tidak ada yang bertanggung jawab atas hal itu. Tentu saja, pemerintah saat ini secara langsung bertanggung jawab terhadap salah urus krisis yang disengaja sejak mereka berkuasa pada 2019 karena ketidakmampuan, kesombongan, dan tentu saja korupsi," kata Jayadeva Uyangoda, seorang ahli ilmu politik, kepada BBC.

Mantan Deputi Gubernur Bank Sentral WA Wijewardena mengatakan kepada BBC bahwa Sri Lanka membuat kesalahan mendasar karena tidak berintegrasi dengan ekonomi global setelah berakhirnya perang saudara pada 2009, yang sempat menunjukkan bahwa ekonominya tumbuh hampir 9%.

Simak selengkapnya, di halaman selanjutnya:

Saksikan Video 'Krisis Ekonomi Sri Lanka, Pria Dibunuh saat Antre BBM-Militer Dikerahkan':

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT