Gegara 47 Kasus Corona, China Lockdown 9 Juta Orang

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 22 Mar 2022 16:13 WIB
A man holding his bicycle with a school bag on it gets a throat swab during a mass COVID-19 test at a residential compound in Wuhan in central Chinas Hubei province, Tuesday, Feb. 22, 2022. Wuhan, the first major outbreak of the coronavirus pandemic has reported more than dozen new coronavirus cases this week, prompting the authority to step up precautious measures. (Chinatopix via AP)
Ilustrasi -- Tes Corona massal di China (dok. Chinatopix via AP)
Beijing -

Otoritas China menempatkan sebuah kota industri berpenduduk 9 juta orang di bawah lockdown setelah mendeteksi 47 kasus baru infeksi virus Corona (COVID-19) di sana. Secara nasional, China mencatat lebih dari 4.000 kasus Corona dalam sehari.

Seperti dilansir AFP, Selasa (22/3/2022), strategi 'nol-COVID' yang masih dipertahankan otoritas China tengah menghadapi tantangan dengan adanya gelombang varian Omicron yang sangat menular.

Otoritas kesehatan China melaporkan 4.770 kasus baru Corona di seluruh wilayah negara tersebut dalam sehari terakhir. Sebagian besar kasus baru Corona itu terdeteksi di Provinsi Jilin, China bagian timur laut, yang memberlakukan larangan perjalanan untuk warganya sejak pekan lalu.

Sementara kota Shenyang yang terletak di Provinsi Liaoning ditempatkan di bawah lockdown sejak Senin (21/3) tengah malam. Shenyang yang merupakan basis industri yang menjadi lokasi banyak pabrik termasuk pembuat mobil BMW, melaporkan 47 kasus Corona dalam sehari terakhir.

Otoritas setempat menempatkan semua kompleks perumahan di bawah 'manajemen tertutup' dan melarang warga untuk pergi keluar tanpa hasil tes negatif Corona yang diambil 48 jam terakhir.

China bergerak cepat dalam beberapa pekan terakhir untuk mengatasi kemunculan klaster baru dengan menerapkan lockdown lokal, menggelar tes Corona massal dan melakukan penutupan terhadap seluruh kota.

Pada Sabtu (19/3) lalu, China melaporkan dua kematian akibat Corona, yang merupakan kematian pertama dalam setahun terakhir.

Simak video 'Epidemiolog China: Perlu Banyak Data untuk Meneliti Deltacron':

[Gambas:Video 20detik]