Pakar PBB Akan Ungkap Sumber Senjata Junta Militer Myanmar

Tim Detikcom - detikNews
Selasa, 01 Feb 2022 18:16 WIB
Residents look on as soldiers block a road after arriving to arrest railway staff involved in the Civil Disobedience Movement (CDM), in protest over the military coup, at Mahlwagone Railway Station in Yangon on March 10, 2021. (Photo by STR / AFP)
kudeta militer Myanmar telah berlangsung satu tahun (Foto: AFP/STR)
Jakarta -

Pakar hak asasi PBB di Myanmar mengumumkan bahwa dirinya akan merilis sebuah laporan yang mengungkap dari mana junta militer Myanmar mendapatkan persenjataan mereka.

Dilansir dari kantor berita AFP, Selasa (1/2/2022), tepat satu tahun sejak kudeta militer Myanmar 1 Februari 2021, Tom Andrews mengatakan junta militer melancarkan kampanye teror yang meluas pada rakyat negara itu -- dan tampaknya lolos begitu saja.

Pelapor khusus PBB untuk hak asasi manusia di Myanmar tersebut mendesak masyarakat internasional untuk memutus akses junta militer ke senjata, dana, dan legitimasi.

"Fakta bahwa satu tahun telah berlalu tanpa resolusi Dewan Keamanan yang memberlakukan embargo senjata yang komprehensif - karena senjata terus mengalir ke junta dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah - tidak dapat diterima," katanya dalam sebuah pernyataan.

Mantan anggota kongres Amerika Serikat itu mengatakan dia akan segera merilis laporan yang merinci senjata yang terus mengalir ke tangan junta, dan mengidentifikasi dari mana asalnya.

"Junta militer berfungsi sebagai perusahaan kriminal, melakukan pembunuhan, penyiksaan, penculikan, pemindahan paksa, sambil mencuri pendapatan dan menyita aset yang seharusnya menjadi milik rakyat Myanmar," kata Andrews.

"Yang lebih buruk, mereka tampaknya lolos begitu saja. Serangan mereka terus berlanjut. Penderitaan rakyat Myanmar terus meningkat," imbuhnya.