Ethiopian Airlines Kembali Operasikan Boeing 737 MAX Usai Tragedi 2019

Rita Uli Hutapea - detikNews
Selasa, 01 Feb 2022 13:41 WIB
FILE - In this Dec. 16, 2019, file photo, a worker looks up underneath a Boeing 737 MAX jet, in Renton, Wash. Boeing has found a new software problem on its grounded 737 Max jetliner. The aircraft maker said, Friday, Jan. 17, 2020, it is making the necessary changes and working with the Federal Aviation Administration. (AP Photo/Elaine Thompson, File)
pesawat Boeing 737 MAX (Foto: AP Photo/Elaine Thompson, File)
Jakarta -

Maskapai Ethiopia, Ethiopian Airlines pada Selasa (1/2) mengoperasikan kembali pesawat Boeing 737 MAX untuk pertama kalinya sejak kecelakaan hampir tiga tahun lalu, yang menewaskan keseluruhan 157 penumpang dan kru. Tragedi itu telah memicu larangan terbang global atas pesawat Boeing tersebut.

Penerbangan Ethiopian Airlines 302 dari Addis Ababa ke Nairobi jatuh enam menit setelah lepas landas pada Maret 2019, lima bulan setelah kecelakaan serupa yang melibatkan maskapai Lion Air di Indonesia yang menewaskan 189 orang.

Dua tragedi itu dan sorotan pada sistem penanganan penerbangan 737 MAX yang salah - yang dikenal sebagai Sistem Augmentasi Karakteristik Manuver (MCAS) - merupakan krisis terburuk dalam sejarah Boeing.

Ethiopian Airlines telah lama mengatakan akan menjadi maskapai terakhir yang menggunakan pesawat 737 MAX.

Namun, dalam sebuah pernyataan kepada AFP, maskapai itu mengatakan keputusan untuk melanjutkan penerbangan 737 MAX datang setelah "sertifikasi ulang yang intens" oleh regulator di Amerika Serikat, Uni Eropa, China, dan Ethiopia.

Penerbangan penumpang pertama akan berlangsung pada Selasa (1/2) ini, kata maskapai itu, tanpa memberikan rincian.

"Pilot, insinyur, teknisi pesawat, dan awak kabin kami sepenuhnya siap untuk membawa B737 MAX kembali mengudara dan kami berharap dapat menyambut Anda di pesawat," kata maskapai Ethiopian Airlines dalam pernyataannya.

Diketahui bahwa para korban tragedi Penerbangan 302, yang terburuk dalam sejarah Ethiopia, berasal dari lebih dari 30 negara.

Boeing telah mencapai kesepakatan dengan keluarga korban dan menerima tanggung jawab atas kecelakaan itu, menurut dokumen hukum yang diajukan pada November 2021 di Chicago, AS, tempat perusahaan itu bermarkas.

Lihat juga Video: Fakta-fakta Usai Terbakarnya Mesin Pesawat Boeing 777-200

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)