Pasien AS Ditolak Transplantasi Jantung Gegara Tak Divaksin Corona

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 26 Jan 2022 13:23 WIB
Asian doctor and an assistant in the operating room for surgical venous vascular surgery clinic in hospital.
Ilustrasi (dok. Getty Images/iStockphoto)
Boston -

Seorang pasien yang dirawat di sebuah rumah sakit di Boston, Amerika Serikat (AS), tak punya peluang untuk menerima transplantasi jantung. Penyebabnya, sebagian karena dia tidak divaksinasi virus Corona (COVID-19).

Seperti dilansir Channel News Asia, Rabu (26/1/2022), DJ Ferguson (31) dirawat di rumah sakit sejak November tahun lalu karena 'gangguan jantung herediter' yang memenuhi paru-parunya dengan darah dan cairan.

Menurut media lokal CBS Boston, keluarga Ferguson menyebut dia sebelumnya berada di garis depan untuk menerima transplantasi jantung, namun kini tidak lagi memenuhi syarat di bawah kebijakan rumah sakit, karena dia tidak divaksinasi Corona.

"Vaksin COVID-19 merupakan salah satu dari beberapa vaksin dan perilaku gaya hidup yang diwajibkan untuk kandidat penerima transplantasi dalam sistem Mass General Brigham demi menciptakan baik peluang terbaik untuk operasi yang sukses maupun kelangsungan hidup pasien usai transplantasi," demikian pernyataan Brigham and Women's Hospital seperti dilaporkan CBS Boston.

Situs resmi Brigham and Womens' Hospital menyebutkan bahwa pihak rumah sakit mewajibkan sejumlah vaksin yang direkomendasikan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) -- termasuk vaksin COVID-19, vaksin flu dan vaksin hepatitis B -- untuk pasien penerima transplantasi.

"Para pasien tidak masuk dalam daftar tunggu tanpa ini," kata pihak Brigham and Women's Hospital.

Persyaratan tersebut, menurut pihak Brigham and Women's Hospital, akan mengoptimalkan kelangsungan hidup karena sistem kekebalan 'ditekan secara drastis' setelah transplantasi.

"Mengingat kelangkaan organ yang tersedia, kami melakukan semuanya yang kami mampu untuk memastikan seorang pasien yang menerima transplantasi organ, memiliki peluang terbesar untuk bertahan hidup," tegas pihak Brigham and Women's Hospital dalam pernyataan terpisah kepada BBC.