Putin dan Erdogan Janji Tingkatkan Hubungan Rusia-Turki Usai Bersitegang

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 03 Jan 2022 14:50 WIB
Russian President Vladimir Putin, right, and Turkish President Recep Tayyip Erdogan talk to each other during their meeting in the Bocharov Ruchei residence in the Black Sea resort of Sochi, Russia, Wednesday, Sept. 29, 2021. (Vladimir Smirnov, Sputnik, Kremlin Pool Photo via AP)
Erdogan dan Putin duduk bersama dalam pertemuan di Sochi, Rusia, tahun 2021 (dok. Vladimir Smirnov, Sputnik, Kremlin Pool Photo via AP)
Moskow -

Presiden Rusia, Vladimir Putin, dan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, berbicara via telepon membahas hubungan kedua negara. Dalam percakapan telepon itu, kedua kepala negara sepakat meningkatkan hubungan Rusia-Turki usai ketegangan yang terjadi terkait drone dan NATO dalam beberapa pekan terakhir.

Seperti dilansir AFP, Senin (3/1/2022), Turki yang merupakan negara anggota NATO sejak tahun 1952, telah membuat marah Rusia dengan mengirimkan pasokan pesawat tak berawak (drone) ke Ukraina, yang dikhawatirkan Rusia akan digunakan oleh Ukraina dalam konflik dengan separatis pro-Rusia di wilayahnya.

Percakapan telepon antara Putin dan Erdogan itu dilakukan pada Minggu (2/1) waktu setempat, masih dalam rangka Tahun Baru.

"(Putin dan Erdogan) Saling bertukar ucapan Selamat Tahun Baru dan merangkum hasil utama kerja sama bilateral dan menegaskan keinginan untuk mengintensifkan kemitraan saling menguntungkan antara Rusia dan Turki," jelas Kremlin dalam pernyataannya soal percakapan telepon kedua kepala negara.

Secara terpisah, kantor kepresidenan Turki menuturkan bahwa kedua pemimpin 'membahas langkah-langkah untuk meningkatkan hubungan Turki-Rusia' dan menekankan keinginan masing-masing untuk mengembangkan kerja sama 'di semua bidang'.

Bulan lalu, Putin mengkritik Ukraina karena mengerahkan sejumlah drone buatan Turki dalam konflik dengan separatis pro-Rusia di bagian timur wilayahnya.

Otoritas Turki menyatakan pihaknya tidak bisa disalahkan untuk penggunaan drone-drone buatannya oleh Ukraina, dan menyatakan jika sebuah negara membeli persenjataan buatan Turki, maka persenjataan itu bukan lagi produk Turki melainkan milik negara yang membelinya.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Turki, Mevlut Cavusoglu, mendesak Rusia pekan lalu untuk membatalkan tuntutan 'sepihak' dan mengadopsi pendekatan yang lebih konstruktif dalam perselisihannya dengan negara-negara Barat dan NATO terkait Ukraina.

Rusia menginginkan NATO memberikan jaminan keamanan yang mengikat dan menarik pasukannya ke posisi sebelum terjadinya gelombang ekspansi timur yang dimulai setelah Uni Soviet kolaps.

(nvc/idh)